Senin, Oktober 20, 2008

Pelatih Profesional dan Sosial



ANDA pelatih seni beladiri? Oke, selama ini apa yang Anda dapatkan dari hasil melatih seni beladiri? Kepuasan batin atau uang?

Mungkin jika dilakukan polling (khususnya di Indonesia), menurut perkiraaan saya akan muncul tiga jawaban; 1) melatih memberi kepuasan batin, 2) melatih mendatangkan uang, 3) melatih memberikan kepuasan batin sekaligus mendatangkan uang.

Memilih jawaban pertama mungkin karena responden atau pelatih seni beladiri tersebut memang berjiwa sosial. Ia tidak memikirkan materi dalam memberikan ilmu. Terpenting adalah ilmu yang diberikan dapat bermanfaat bagi orang lain.

Bisa pula pelatih tersebut secara materi tidak kekurangan atau sudah mapan, sehingga melatih hanya penyaluran hobi sekaligus menjaga kebugaran dan mempertahankan penguasaan teknik.

Memilih jawaban kedua, ada beberapa kemungkinan alasan. Bisa karena berpandangan bahwa yang diajarkan adalah ilmu dan ilmu tersebut layak untuk dihargai secara materi. Toh, wajar jika kemudian ia dibayar karena untuk mendapatkan ilmu tersebut sebelumnya ia juga harus mengeluarkan uang dan menyediakan waktu.

Alasan lain, secara materi pelatih tersebut masih kekurangan, sehingga perlu tambahan penghasilan dari melatih seni beladiri.

Memilih jawaban ketiga, karena beralasan hobi bisa mendatangkan uang. Seperti halnya pelukis yang dari hobinya itu kemudian dapat memberikan rezeki, demikian pula hobi menyanyi, bermain musik dan lain sebagainya, bisa berkorelasi dengan uang.

Dari ketiga jawaban di atas, mungkin ada yang sesuai dengan jawaban kita.

Garis besarnya, ada pelatih yang tidak mementingkan uang dan ada yang mementingkan uang. Boleh diistilahkan ada pelatih berprinsip sosial ada pelatih berprinsip profesionalisme.

Antara keduanya sah-sah saja. Tergantung pribadi pelatih masing-masing.

Olahraga seperti halnya seni beladiri sebenarnya tidak haram untuk dijadikan lahan mencari rezeki. Adalah hal yang wajar jika pelatih menetapkan bayaran atas jerih payahnya dengan catatan tidak terlalu materialistis.

Profesionalisme memang diperlukan, karena selama ini di Indonesia hanya sedikit cabang olahraga yang bisa menopang kehidupan para atlet maupun pelatih. Olahraga yang menjajikan materi, misalnya sepak bola, tenis lapangan dan tinju. Sedangkan seni beladiri macam pencak silat, karate, judo, jujutsu dan sebagainya hanya mendatangkan uang besar saat berprestasi di atas matras atau mungkin bernasib baik menjadi aktor film laga. Itupun temporer. Sementara di tempat latihan tak bisa berbicara banyak untuk menjamin kehidupan.

Di negara maju, contohnya Jepang, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, berbeda dengan di Indonesia. Para praktisi beladiri yang sudah berstatus pelatih, tidak ragu menjadikan hobinya sebagai profesi. Tempat latihan adalah tempat mencari uang.

Tempat latihan biasanya berupa ruangan, bukan lapangan atau areal terbuka. Dikelola dengan manajemen yang rapi, seperti halnya tempat kursus atau lembaga pendidikan non formal. Mereka mendapatkan uang dari siswa yang belajar, bahkan ada staf khusus yang menangani pendaftaran, pengaturan jadwal latihan dan masalah finansial sehingga kelangsungan tempat latihan dan kesejahteraan pemilik serta pelatih di situ terjamin.

Aktivitas harian para pelatih adalah full time melatih. Hanya sedikit yang bekerja paruh waktu. Jadi profesionalisme benar-benar dijalankan, karena melatih adalah pekerjaan.

Sistem latihan ada yang regular adapula yang paket. Bagi yang ingin privat pun dilayani. Tentunya ada perbedaan biaya dari pembagian sistem latihan ini. Di sinilah harga dari sebuah ilmu dinilai.

Dengan manajemen yang tertata, tempat latihan pun bahkan bisa beriklan di media massa seperti halnya perusahaan mempromosikan produknya. Media digunakan tak hanya cetak dan elektronik, juga media internet.

Sebagai diversifikasi usaha, banyak pula pelatih yang menulis buku dan membuat video beladiri (VC/DVD). Pasarnya tak hanya para murid tapi juga khalayak umum.

Di Indonesia, khususnya di pulau Jawa sebenarnya sudah mulai bermunculan praktisi beladiri yang berani memprofesionalkan diri, meski tak banyak yang full time. Membuka tempat latihan representatif lengkap dengan peralatan dan menerapkan manajemen.

Bagi praktisi seni beladiri di daerah, bisa meniru hal itu. Dengan prinsip ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) profesionalisme bisa mulai dijalankan. Jika selama ini lebih banyak berharap dari melatih privat, sekarang dapat lebih meningkatkan penghasilan dengan mengelola tempat latihan secara profesional.

Tak perlu banyak memberikan janji, misalnya tempat latihan tersebut dapat mencetak atlet berprestasi, karena ujungnya hanya menimbulkan beban bagi pelatih. Selain itu motivasi murid tak semuanya ingin jadi atlet. Utamanya, mereka ingin memiliki bekal pertahanan diri sekaligus berolahraga.

Terpenting dalam mengelola tempat latihan adalah menjaga hubungan emosional yang baik antara pelatih dan murid. Tentunya kalau mereka merasa nyaman berlatih, kontinuitas latihan tidak terputus dan tidak ada murid yang berhenti setelah satu atau dua bulan berlatih.

0 komentar: