Senin, Oktober 20, 2008

Buka Wawasan Seni Beladiri


SEBAGIAN besar metode belajar dan mengajar seni beladiri di tanah air adalah latihan fisik. Ya, nyaris 90 persen yang diajarkan di tempat latihan adalah bagaimana cara memukul, menendang, membanting, mengunci, bergumul, menggunakan senjata dan mempraktikkan jurus-jurus.

Sementara penyampaian tentang ilmu pengetahuan baik meliputi sejarah, filosofi dan wawasan seni beladiri hanya 10 persen. Bahkan mungkin ada yang 100 persen hanya latihan fisik tanpa menyisakan porsi ilmu pengetahuan.

Semestinya, ilmu pengetahuan tentang seni beladiri jangan dikesampingkan. Penyampaian secara lisan atau tulisan dari pelatih itu penting, agar murid-murid tak hanya tahu teknik membeladiri tapi juga memahami tentang seni beladiri yang mereka pelajari. Bagus lagi mengetahui apa dan bagaimana seni beladiri yang lain.

Akibat kurangnya porsi penyampaian ilmu pengetahuan, banyak murid-murid di tempat latihan yang tidak tahu sejarah seni beladiri yang selama ini mereka pelajari. Tidak tahu dan tidak memahami filosofi yang sebenarnya banyak mengandung nilai moral. Begitupula berwawasan seadanya.

Satu fenomena yang pernah terjadi ketika seorang murid seni beladiri Taekwondo dari sebuah dojang mempertontonkan sekeping VCD tentang Taekwondo kepada temannya yang juga murid sebuah disiplin beladiri.

Saat menyimak tayangan VCD, sang teman bertanya kenapa seragam yang digunakan peraga di video itu berbeda dengan seragam Taekwondo umumnya di Indonesia. Di video mengenakan dobok (seragam Taekwondo) berstrip hitam pada kedua lengan baju dan sisi luar celana panjang, sementara biasanya di Indonesia yang sering dilihat adalah dobok tanpa strip kecuali bagian leher berbentuk V berwarna hitam (khusus sabuk hitam).

Dengan yakin si murid Taekwondo menjawab, dobok di Korea memang seperti itu. Beda dengan di Indonesia.

Lho?

Padahal yang benar adalah VCD yang diputar itu tentang Taekwondo dari organisasi ITF (International Taekwondo Federation), sementara di Indonesia Taekwondo yang berkembang adalah dari organisasi WTF (World Taekwondo Federation). Sehingga berbeda baik dari segi seragam maupun tekniknya.

Adapula kejadian seorang murid Karate Shotokan yang ironisnya tidak tahu dengan Gichin Funakoshi. Ia hanya tahu Funakoshi itu adalah nama salah satu perguruan Karate yang tergabung dalam FORKI.

Uniknya lagi, ada satu kumpulan karateka dari sebuah perguruan yang tekniknya berbeda-beda. Mestinya mereka seragam dalam mempraktikkan teknik, nyatanya masing-masing tidak sama, sehingga kadang terjadi diskusi bahkan perdebatan kecil. Padahal biasanya beberapa perguruan Karate punya afiliasi (atau bolehlah dibilang kiblat) organisasi atau perguruan di luar negeri, misalnya di Jepang, sehingga soal teknik mengadopsi dari afiliatornya.

Selain soal perbedaan teknik dalam satu perguruan, juga terjadi salah kaprah dalam penyebutan kata atau istilah dalam bahasa Jepang.

Itu hanya ketidaktahuan pada seni beladiri yang mereka pelajari. Belum lagi tentang seni beladiri yang lain dan segala perkembangan dalam dunia seni beladiri.

Di mana salahnya?

Kesalahan itu ada pada diri kita masing-masing yang tidak mau belajar.

Banyak buku maupun VCD/DVD tentang seni beladiri yang dijual di pasaran, tapi kita malas membeli apalagi membaca. Demikian pula media internet tidak dimanfaatkan untuk mempelajari seni beladiri, padahal segala yang ingin kita ketahui mudah dicari, baik informasi berupa tulisan (buku, majalah on line), foto maupun visual (klip video).

Nah, kurang apa lagi?

Tinggal bagaimana minat kita untuk menggali sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan tentang seni beladiri.

written by harry

1 komentar:

pendapat mengatakan...

saya dari karateka inkai menepis tentang yg d jelaskan dlam artikel ini. saya dari sabuk putih hingga sekarang d beri wawasan tentang karate. semua bahkan resiko yg saya terima saat menggunakan jurus tersebut. hingga sejarah dan pembekalan d jalan.

tentang sensei funakoshi. oleh pelatih saya, saya d ceritakan sejarah sampai filosofi beliau.(tidak tau klo perguruan karate yg lain)