Rabu, Juni 03, 2009

Wasit-Juri Juga Manusia ... (2)


Kata orang, pertandingan seni beladiri adalah pertandingan yang tidak terukur. Maksudnya, penilaian dalam pertandingan seni beladiri itu sangat ‘kompleks’, perlu kejelian seorang wasit-juri dalam melihat sebuah teknik apakah menghasilkan poin atau tidak. Sebab seringkali teknik yang dilancarkan berlangsung cepat dan kadang nyaris sulit diikuti mata.

Berbeda halnya dengan pertandingan sepak bola, bola basket, billiard dan lainnya yang penonton pun secara jelas bisa melihat bagaimana poin dihasilkan.

Tidak terukurnya pertandingan seni beladiri, kadang dimanfaatkan segelintir orang untuk mencari kemenangan. Caranya, memanfaatkan oknum wasit-juri yang bisa diajak bekerjasama dalam menentukan penilaian.

Money politic dalam pertandingan seni beladiri, adalah sebuah fenomena. Hal itu tidak bisa kita pungkiri.

Tatkala ingin atletnya berprestasi, ada saja oknum pelatih, manajer, ofisial, bahkan orangtua atlet yang secara sembunyi melobi wasit-juri.

Lha, wasit-juri yang semestinya netral, ini kok malah ada saja yang mau diajak kompromi. Soalnya, siapa sih yang imannya kuat tatkala melihat segepok rupiah?

Dengan landasan aturan bahwa keputusan wasit-juri tidak bisa diganggu-gugat (kalaupun boleh protes, harus bayar!), oknum wasit juri itu pun bisa berdrama di atas matras. Tatkala atlet yang dijagokan maju bertanding, aktor berseragam pengadil ini pun memainkan peran di hadapan penonton.

Tak heran jika kadang-kadang terjadi kericuhan saat pertandingan berlangsung atau di akhir pertandingan. Tim manajer, pelatih, ofisial bahkan atletnya sendiri protes, kenapa teknik pukulan, tendangan atau bantingannya tidak dipoin? Padahal menurut mereka secara teknik dan arah sasaran sudah tepat.

Sementara tim lawan yang atletnya sudah diplot untuk menang, adem ayem saja.
Ya, silakan saja protes….
Tapi percuma, broer! Cuma menghabiskan air liur dan penat bertegang urat syaraf…
Toh, ujung-ujungnya keputusan itu tak bisa diganggu-gugat! Titik!

Wong, wasit-juri (bahkan mungkin dewan wasit) sudah dibayar untuk kukuh pada keputusan mereka.

Memang tidak semua wasit-juri berlaku demikian. Masih banyak mereka yang bersih, adil dan obyektif dalam menjalankan tugas yang dilandasi janji atau sumpah wasit.

Tapi, kenyataan bahwa ada oknum wasit atau juri yang bisa dilobi, bahkan ada yang menawarkan diri kepada kontingen, adalah coreng dalam dunia olahraga beladiri yang idealnya sangat menjunjung tinggi sportivitas.

Sebuah fenomena yang unik tapi ‘menarik’.
Namun jika kembali kepada khittah manusia, manusia tidak ada yang sempurna.

Ya, jika memplesetkan lagunya Band Seurieus; “…wasit-juri… juga.. manusia….”

Kita pun, bisa salah dan khilaf...

READ MORE - Wasit-Juri Juga Manusia ... (2)

Wasit-Juri Juga Manusia ... (1)


Suatu waktu pada sebuah kejuaraan Karate even FORKI daerah yang mempertandingkan nomor Kata perorangan, terjadi sebuah ‘keanehan’. Salah seorang atlet yang bertanding dinyatakan juri kalah dari lawannya, padahal atlet tersebut merasa penampilannya lebih bagus dari sang lawan, apalagi Kata yang dibawakan kategorinya lebih sulit.

Penonton yang melihat pertandingan itu pun bingung. Penilaian secara awam, memang atlet yang dikalahkan tadi penampilannya lebih baik. Segi penjiwaan bagus, ritme sesuai, power oke. Tapi kok bisa, sang lawan yang gerakannya tidak bisa dikatakan bagus, malah dimenangkan.

Usut punya usut, ternyata keputusan juri itu dikarenakan atlet dari aliran Shotokan yang kalah tadi membawakan Kata dari aliran Goju, sementara sang lawan yang juga dari Shotokan tetap membawakan Kata alirannya sendiri.

Apakah tidak boleh seorang atlet Kata membawakan Kata yang bukan dari alirannya sendiri? Rasanya aturan pertandingan tidak membatasi hal itu. Buktinya, di even nasional bertanding dengan membawakan Kata dari aliran lain sah-sah saja.

Memang bukan karena itu juri melakukan penilaian. Sebab saat pertemuan teknik (technical meeting) membawakan Kata dari aliran lain diperbolehkan. Lantas, apa sebabnya?

Juri tidak bisa menilai!

Ya, juri terpaksa memenangkan atlet yang membawakan Kata Shotokan karena untuk menilai Kata Goju (dan mungkin juga Shito, Wado) mereka tidak punya kemampuan alias tidak mengerti dengan Kata tersebut.

Lucu? Memang lucu!

Semestinya sebagai seorang wasit dan juri FORKI harus mengenal Kata aliran sendiri dan Kata aliran lain. Jelasnya, hapal dengan Kata aliran sendiri ditambah ‘paling tidak’ memiliki perbendaharaan dua atau empat Kata aliran lain. Kenyataannya pada kasus di atas, juri Kata tidak demikian.

Lucunya lagi, malah ada juri Kata yang minim perbendaharaan Kata alirannya sendiri. Sehingga pernah salah dalam menilai penampilan atlet dari aliran yang sama. Atlet tersebut gerakannya sudah betul, tapi dikalahkan karena dianggap ada gerakan yang keliru. Padahal sang juri sendiri yang tidak hapal dengan Kata tersebut.

Idealnya, seorang juri Kata harus hapal semua Kata di alirannya, bukannya cuma Kata dasar plus dua-tiga Kata di atasnya. Ya, jika ia dari aliran Shotokan sudah sepatutnya tahu dengan 26 Kata Shotokan! Bagaimana mau menilai, jika koleksi Kata di kepalanya hanya 50 persen, bahkan mungkin 10 persen!

Ujung-ujungnya, atlet dikecewakan. Jerih payah latihan (dengan motivasi yang tinggi, tanpa mempedulikan apakah prestasinya nanti berbuah rupiah atau penghargaan serta pekerjaan), kemudian berakhir dengan keputusan di atas matras yang tidak masuk akal!

Sebuah fenomena yang unik tapi ‘menarik’.
Namun jika kembali kepada khittah manusia, manusia tidak ada yang sempurna.

Ya, jika memplesetkan lagunya Band Seurieus; “…wasit-juri… juga.. manusia….”

Kita pun, bisa salah dan khilaf...


READ MORE - Wasit-Juri Juga Manusia ... (1)