Minggu, November 01, 2009

Berbagai Versi Kata Shotokan (1)


Kihon, Kata, Kumite. Ketiga teknik itulah yang wajib dipelajari para karateka sejak sabuk putih hingga hitam. Kihon adalah gerakan dasar, Kata merupakan rangkaian gerak dasar, Kumite adalah teknik untuk pertarungan atau pertandingan.

Khusus Kata. Belajar Kata begitu penting, karena menurut Gichin Funakoshi; Kata adalah jiwa dari Karate. Saripati Karate semua ada di Kata.

Bahkan Gichin Funakoshi yakin, setelah seseorang 'menguasai' lima Kata Heian maka karateka tersebut akan bisa melindungi dirinya dalam berbagai situasi ancaman. Sayangnya tidak semua dojo karate mengajarkan pemahaman apalagi aplikasi yang terkandung dalam setiap Kata.

Banyak sekali jumlah Kata dalam Karate. Dari sekian banyak Kata tersebut, Shotokan sebagai salah satu aliran Karate, memuat 26 Kata dalam kurikulum pengajaran Karate. Hal ini sesuai yang diajarkan di Japan Karate Associaton (JKA) maupun Shotokan Karate-Do International Federation (SKIF).

Kata standar JKA dan SKIF tersebut terbagi menjadi 5 Kata Heian (kata dasar), 3 Kata Tekki dan lainnya yaitu Bassai Dai, Bassai Sho, Jion, Jiin, Kanku Dai, Kanku Sho, Sochin, Unsu, Chinte, Wankan, Enpi, Gojushiho So Gojushiho Dai, Jitte, Nijushiho, Gankaku, Meikyo, Hangetsu.

Sementara JKA menerapkan 26 Kata dan SKIF menerapkan 27 Kata (terbaru, Niju Hachi Ho, ciptaan H Kanazawa), ada lagi beberapa organisasi Karate Shotokan yang menetapkan jumlah Kata 25. Biasanya perbedaan itu pada penambahan atau pengurangan Kata, misalnya memasukkan Taikyoku (Shodan, Nidan, Sandan) yang merupakan Kata ciptaan Gichin Funakoshi, kemudian mengurangi Kata lainnya.

JKA dan SKIF adalah dua organisasi Shotokan yang saat ini sama-sama banyak memiliki pengikut di seantero dunia. Meski sama-sama mengajarkan Kata Shotokan, namun kedua organisasi ini memiliki perbedaan dari penerapan masing-masing Kata tersebut.

Penerapan tersebut tersebut pada bentuk gerakan. Misalnya Kata Heian Shodan, terjadi perbedaan pada sikap dachi (kuda-kuda) saat melakukan teknik pukulan Tettsui/Kentsui (pukulan palu).

Heian Shodan versi JKA; setelah gedan barai kanan, kemudian menarik tangan kanan ke dalam untuk melakukan tettsui sembari kaki kanan ditarik ke dalam, posisi badan setengah berdiri tegak, kemudian mengayunkan tettsui berbarengan kaki kanan kembali ke depan membentuk zenkutsu dachi. Selanjutnya chudan tsuki kiri.

Heian Shodan versi SKIF; setelah gedan barai kanan, kemudian menarik tangan kanan ke dalam untuk melakukan tettsui sembari kaki kanan ditarik ke dalam, posisi badan berdiri tegak, kemudian mengayunkan tettsui (tidak kembali zenkutsu dachi). Selanjutnya chudan tsuki kiri.

Perbedaan juga terjadi pada Kata Heian Nidan, Sandan, Yondan dan Godan. Kemudian Bassai Dai, Jion dan lainnya...

Mengapa terjadi perbedaan?
Pada tulisan berikutnya akan kami ulas penyebabnya, berikut video klip kedua versi Kata tersebut, untuk melihat lebih jelas gerakan apa saja yang berbeda.
Juga akan kami paparkan bagaimana kata shotokan gaya klasik.

bersambung...


READ MORE - Berbagai Versi Kata Shotokan (1)

Selasa, Oktober 06, 2009

1 Pendiri, 2 Aliran

Taekwondo merupakan seni beladiri asal Korea hasil kombinasi dari beberapa seni beladiri tradisional negeri ginseng tersebut, antara lain taekyon dan karate shotokan. Saat ini Taekwondo menjadi salah satu seni beladiri populer di dunia dan di pertandingkan di olimpiade (versi atau aliran WTF).

Ada dua aliran besar dalam Taekwondo yang masing-masing dinaungi oleh dua organisasi dunia, yaitu World Taekwondo Federation (WTF) dan International Taekwondo Federation (ITF). Uniknya, kedua aliran ini secara fundamental pendirinya adalah satu orang, yakni Jenderal Choi Hong Hi.

Choi Hong Hi adalah salah seorang jenderal bintang dua di Korea Selatan yang dilahirkan di Hwa Dae, Myongchon (kini menjadi bagian Korea Utara). Sejak kecil ia mempelajari berbagai seni beladiri tradisional Korea, salah satunya Taekyon. Saat remaja ia bersekolah ke Jepang dan mempelajari Karate Shotokan di Dojo-nya Gichin Funakoshi hingga menyandang sabuk hitam DAN II.

Kembali ke Korea, Choi Hong Hi berkarir di militer. Karirnya terus melesat hingga berpangkat Mayor Jenderal. Atas kegemarannya pada seni beladiri Choi Hong Hi meramu teknik-teknik beladiri yang dikuasainya, termasuk karate shotokan hingga terciptalah beladiri yang dinamakannya Oh Dok Kwan. Sejumlah rekan menjadi murid pertama Choi.

Presiden Korea Selatan kala itu, Syngman Rhee, kemudian meminta Choi Hong Hi untuk menghimpun para ahli beladiri di negara tersebut. Tujuannya menciptakan satu metode pelatihan fisik dan beladiri bagi kalangan militer. Pada 1955 atau dua tahun pasca perang Korea Selatan dan Utara, lahirlah beladiri baru Tang So Do yang kemudian berganti menjadi Taekwondo (secara harfiah; jalan/seni tangan dan kaki).

Namun perhimpunan yang terdiri sembilan perguruan (kwan) itu tak bertahan lama karena ego masing-masing perguruan. Meski demikian Choi Hong Hi tetap meneruskan pengajaran Taekwondo yang awalnya hanya di kalangan militer.

Seiring perjalanan waktu, beladiri ini dipublikasikan hingga masyarakat umum bisa mempelajari. Meski sejak 1950-an terpecah menjadi dua negara, Korea Selatan dan Korea Utara, namun Taekwondo tetap dipelajari oleh masyarakat di kedua negara bersaudara itu. Pada 1966 di Seoul, Korea Selatan, didirikanlah International Taekwondo Federation (ITF).

Sayangnya, situasi politik yang kala itu tidak mendukung karir Choi Hong Hi di militer maupun pemerintahan membuatnya harus meninggalkan Korea Selatan. Konon, hijrahnya Choi bersama keluarga ke Kanada (1972) untuk menghindari 'pembersihan' sejumlah politisi termasuk petinggi militer yang dianggap tidak sepaham dengan pemerintah Korea Selatan yang telah direformasi. Hal ini mungkin berkait pula dengan asal muasal Cho Hong Hi yang desa kelahirannya kini masuk Korea Utara.

Di Kanada, Choi Hong Hi terus mengembangkan Taekwondo dengan organisasinya ITF. Setahun sepeninggal Jenderal Choi, pada 1973 pemerintah Korea Selatan mendirikan World Taekwondo Organisation (WTF), sebagai wadah Taekwondo di negara tersebut.

Jadilah Taekwondo menjadi dua organisasi yang secara teknik juga memiliki beberapa perbedaan. Seragam pun berbeda. Versi ITF mengenakan baju dengan kerah selempang seperti umumnya beladiri Jepang namun berikat di tengah perut, sedangkan WTF berdesain kerah seperti huruf V. Baju dan celana versi ITF berstrip/garis hitam di bagian sisi tangan dan sisi kaki.


Teknik tendangan tak jauh beda, hanya gerak dasar yang sedikit ada perbedaan. Dalam sistem pertandingan, WTF lebih mengarah pada olahraga murni sehingga full protector dan tidak tidak terlalu memberi 'perhatian' pada teknik pukulan. Sedangkan ITF hanya mengenakan hand glove dan foot protector, sementara dada dan perut tidak berpelindung demikian pula kepala tidak dilindungi helm. Karena minim protector, gaya fight ITF yang menggunakan kombinasi pukulan dan tendangan, lebih full contact dibanding WTF.

Kembali pada sang pendiri. Setelah 28 tahun bermukim di Kanada dan berhasil mengembangkan Taekwondo ITF ke sejumlah negara, pada tahun 2000 Choi Hong Hi memutuskan pulang ke Korea Utara yang notabene 'negara' kelahirannya. Dua tahun kemudian, pada 15 Juni 2002, Choi meninggal dunia di Pyongyang, akibat penyakit kanker.
Taekwondo ITF kini dipimpin oleh Choi Jung Hwa. Putra tunggal Choi Hong Hi tersebut menjabat presiden ITF sejak 2001.


written by harry


READ MORE - 1 Pendiri, 2 Aliran

Kamis, September 24, 2009

Jet Lee Juga Seorang 'Kenshi'

Lie Lien Chieh atau Li Lien Jieh alias Jet Lee ternyata tak hanya mahir bermain kungfu, ia juga pandai beladiri Shorinji Kempo.

Apa iya? Ya, lihat saja di film jadul Shaolin Temple yang edar tahun 1982. Pada adegan latihan para biksu di halaman kuil, jelas sekali gerakan dasar Shorinji Kempo diperagakan.

Kemudian adegan perkelahian antara biksu Shaolin dan para musuh yang menyerang kuil, sejumlah biksu termasuk tokoh yang diperankan Jet Lee, menggunakan teknik perkelahian khas Shorinji Kempo. Gaya tendangan, pukulan, kuncian dan bantingan.

Mungkin Anda yang pernah nonton film ini lupa dengan adegan tersebut. Oke, kalau mau lihat bagaimana adegannya, klik di sini

READ MORE - Jet Lee Juga Seorang 'Kenshi'

Senin, September 14, 2009

Wong Fei Hung Seorang Muslim !


Siapa tak kenal Wong Fei Hung? Jago Kungfu legenda Tiongkok ini beberapa kali difilmkan hingga kemudian semakin populer setelah era tahun 90-an bintang film action Jet Lee memainkannya dalam serial layar lebar Kungfu Master (judul asli; Once Upon a Time in China).

Dari film itu, orang tahu bahwa Wong Fei Hung adalah pendekar berhati luhur, suka menolong dan tak hanya jago kungfu tapi juga mahir mengobati penyakit karena ia juga seorang tabib mumpuni.

Tendangan tanpa bayangan, adalah salah satu teknik khas Wong Fei Hung yang dalam film digambarkan sebagai teknik tendangan menyamping (side kick) di udara dengan beberapa kali tendangan (beruntun) kaki kiri dan kanan.

Selain kehebatan kungfunya, tahukah Anda bahwa Wong Fei Hung ternyata beragama Islam. Bahkan ia berasal dari keluarga muslim yang taat, sehingga Wong Fei Hung yang dilahirkan pada 1847 di Kwantung (Guandong) memiliki pengetahuan agama Islam yang luas.

Nama Wong Fei Hung jika diartikan adalah Faisal Hussein Wong. Ya, Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Foto diri Wong Fei Hung

Lebih lengkapnya tentang fenomena Wong Fei Hung bisa Anda baca di sini
READ MORE - Wong Fei Hung Seorang Muslim !

Senin, September 07, 2009

Kekurangan Film Merantau


Sudah nonton film Merantau?

Bagaimana pendapat Anda?

Kalau menurut saya, film aksi Indonesia ini memang oke. Rasanya baru kali ini nonton film aksi beladiri tanah air seperti ini...

Gaya bertarungnya khas pencak silat dengan kemasan pengambilan gambar yang memikat. Meski mirip dengan film Ong Bahk dari Thailand, namun pastinya film Merantau patut diacungi jempol. Good, good, good......

Apa yang dilakukan sutradara asal Inggris, Gareth Huw Evans, mungkin melawan arus tren film di tanah air yang marak dengan tema horor dan cinta serta komedi nakal. Tapi kenyataannya tema beladiri tradisional tersebut mampu menarik perhatian publik karena dikemas dengan apik dan menarik.

Namun ada satu yang kurang dari film Merantau...
Film ini menampilkan seni budaya asli Indonesia, beladiri pencak silat, tapi sayangnya yang mengangkat ke layar lebar adalah sineas barat.

Ke mana sineas kita?

Orang bule saja peduli dengan budaya kita, kenapa kita tidak peduli dengan budaya sendiri?
READ MORE - Kekurangan Film Merantau

Kamis, Juli 30, 2009

Apalah Artinya Sebuah Sabuk...


Hampir semua seni beladiri menerapkan sistem peringkat pada anggotanya. Peringkat itu ditandai berupa sabuk.

Setiap tingkatan berbeda warna sabuknya. Ada merah, kuning, hijau, putih, coklat, biru, hitam, jingga dan sebagainya. Soal bentuk sabuk, modelnya tergantung masing-masing perguruan.

Pergantian sabuk dari satu warna ke warna lainnya harus ditempuh melalui ujian yang meliputi ujian fisik, mental dan teknik.

Sangat melelahkan... mengubah warna sabuk saja harus berpeluh keringat, bahkan kadang memar dan luka.

Namun lelahnya menjalani proses tersebut seolah sirna ketika seikat sabuk warna baru diperkenankan melingkar di pinggang kita.

Sayangnya, proses memperoleh sabuk itu kemudian tidak dihargai oleh sang pemilik sabuk. Pulang ke rumah, sabuk dilempar begitu saja di lantai, bahkan tidak disentuh jika belum tiba jadwal latihan.

Ketika hendak memulai latihan, memakai sabuk asal-asalan. Penting adalah melingkar di pinggang dan simpulnya terikat. Beres!

Padahal, memakai sabuk ada etika tersendiri. Seperti halnya seorang guru atau pelatih tidak serta merta melemparkan begitu saja sabuk baru kepada kita saat kita dinyatakan lulus ujian. Kadang ada prosesi khusus dalam penyerahan sabuk kepada murid yang lulus. Begitu formal sehingga ada kebanggan tersendiri saat mendapat sabuk baru.

Memakai sabuk (yang kita dapatkan dengan susah payah) haruslah dengan cermat. Peganglah kedua ujung sabuk, jika ukurannya panjang, lingkarkan sebagian di salah satu tangan kita. Jangan biarkan ada bagian sabuk yang menjuntai hingga menyentuh lantai atau tanah. Praktik ini perlu dilakukan, baik saat posisi berdiri atau duduk.

Demikian pula ketika melepas, ketika simpul dibuka janganlah sabuk dibiarkan jatuh begitu saja ke kaki kita, kemudian dipungut. Sebaliknya, peganglah sabuk dengan benar. Seperti halnya ketika memasang, tak ada bagian yang menyentuh lantai saat sabuk dilepas. Selanjutnya lipat dengan baik sabuk tersebut.

Kepada murid-murid di tempat latihan, saya sering mengingatkan tata cara menghormati sabuk ini. Bukan bermaksud mendewakan atau mengagungkan benda berbahan kain yang dilipat dan dijahit berlapis itu, tetapi lebih pada menghargai proses kita mendapatkan sabuk tersebut.

Seperti halnya ketika anak-anak mendapatkan raport hasil belajar di sekolah. Apakah ketika pulang ke rumah dilempar begitu saja? Tidak kan? Benda berupa kertas bertulis angka dan hurup itu disimpan baik-baik, meskipun dalam penilaian sang guru menulis satu atau dua angka dengan tinta merah.

Demikian pula ketika prestasi kerja kita di kantor dihargai dengan selembar piagam, plakat atau tanda penghargaan lainnya. Apakah benda mati itu kita onggokan begitu saja di sembarang tempat? Sebaliknya ditaruh di atas meja atau dalam lemari, bahkan 'dibungkus' dengan bingkai kaca segala.

Sebuah sabuk akan begitu berarti
jika kita bisa memaknai
arti sebuah sabuk....


harry

READ MORE - Apalah Artinya Sebuah Sabuk...

Rabu, Juni 03, 2009

Wasit-Juri Juga Manusia ... (2)


Kata orang, pertandingan seni beladiri adalah pertandingan yang tidak terukur. Maksudnya, penilaian dalam pertandingan seni beladiri itu sangat ‘kompleks’, perlu kejelian seorang wasit-juri dalam melihat sebuah teknik apakah menghasilkan poin atau tidak. Sebab seringkali teknik yang dilancarkan berlangsung cepat dan kadang nyaris sulit diikuti mata.

Berbeda halnya dengan pertandingan sepak bola, bola basket, billiard dan lainnya yang penonton pun secara jelas bisa melihat bagaimana poin dihasilkan.

Tidak terukurnya pertandingan seni beladiri, kadang dimanfaatkan segelintir orang untuk mencari kemenangan. Caranya, memanfaatkan oknum wasit-juri yang bisa diajak bekerjasama dalam menentukan penilaian.

Money politic dalam pertandingan seni beladiri, adalah sebuah fenomena. Hal itu tidak bisa kita pungkiri.

Tatkala ingin atletnya berprestasi, ada saja oknum pelatih, manajer, ofisial, bahkan orangtua atlet yang secara sembunyi melobi wasit-juri.

Lha, wasit-juri yang semestinya netral, ini kok malah ada saja yang mau diajak kompromi. Soalnya, siapa sih yang imannya kuat tatkala melihat segepok rupiah?

Dengan landasan aturan bahwa keputusan wasit-juri tidak bisa diganggu-gugat (kalaupun boleh protes, harus bayar!), oknum wasit juri itu pun bisa berdrama di atas matras. Tatkala atlet yang dijagokan maju bertanding, aktor berseragam pengadil ini pun memainkan peran di hadapan penonton.

Tak heran jika kadang-kadang terjadi kericuhan saat pertandingan berlangsung atau di akhir pertandingan. Tim manajer, pelatih, ofisial bahkan atletnya sendiri protes, kenapa teknik pukulan, tendangan atau bantingannya tidak dipoin? Padahal menurut mereka secara teknik dan arah sasaran sudah tepat.

Sementara tim lawan yang atletnya sudah diplot untuk menang, adem ayem saja.
Ya, silakan saja protes….
Tapi percuma, broer! Cuma menghabiskan air liur dan penat bertegang urat syaraf…
Toh, ujung-ujungnya keputusan itu tak bisa diganggu-gugat! Titik!

Wong, wasit-juri (bahkan mungkin dewan wasit) sudah dibayar untuk kukuh pada keputusan mereka.

Memang tidak semua wasit-juri berlaku demikian. Masih banyak mereka yang bersih, adil dan obyektif dalam menjalankan tugas yang dilandasi janji atau sumpah wasit.

Tapi, kenyataan bahwa ada oknum wasit atau juri yang bisa dilobi, bahkan ada yang menawarkan diri kepada kontingen, adalah coreng dalam dunia olahraga beladiri yang idealnya sangat menjunjung tinggi sportivitas.

Sebuah fenomena yang unik tapi ‘menarik’.
Namun jika kembali kepada khittah manusia, manusia tidak ada yang sempurna.

Ya, jika memplesetkan lagunya Band Seurieus; “…wasit-juri… juga.. manusia….”

Kita pun, bisa salah dan khilaf...

READ MORE - Wasit-Juri Juga Manusia ... (2)

Wasit-Juri Juga Manusia ... (1)


Suatu waktu pada sebuah kejuaraan Karate even FORKI daerah yang mempertandingkan nomor Kata perorangan, terjadi sebuah ‘keanehan’. Salah seorang atlet yang bertanding dinyatakan juri kalah dari lawannya, padahal atlet tersebut merasa penampilannya lebih bagus dari sang lawan, apalagi Kata yang dibawakan kategorinya lebih sulit.

Penonton yang melihat pertandingan itu pun bingung. Penilaian secara awam, memang atlet yang dikalahkan tadi penampilannya lebih baik. Segi penjiwaan bagus, ritme sesuai, power oke. Tapi kok bisa, sang lawan yang gerakannya tidak bisa dikatakan bagus, malah dimenangkan.

Usut punya usut, ternyata keputusan juri itu dikarenakan atlet dari aliran Shotokan yang kalah tadi membawakan Kata dari aliran Goju, sementara sang lawan yang juga dari Shotokan tetap membawakan Kata alirannya sendiri.

Apakah tidak boleh seorang atlet Kata membawakan Kata yang bukan dari alirannya sendiri? Rasanya aturan pertandingan tidak membatasi hal itu. Buktinya, di even nasional bertanding dengan membawakan Kata dari aliran lain sah-sah saja.

Memang bukan karena itu juri melakukan penilaian. Sebab saat pertemuan teknik (technical meeting) membawakan Kata dari aliran lain diperbolehkan. Lantas, apa sebabnya?

Juri tidak bisa menilai!

Ya, juri terpaksa memenangkan atlet yang membawakan Kata Shotokan karena untuk menilai Kata Goju (dan mungkin juga Shito, Wado) mereka tidak punya kemampuan alias tidak mengerti dengan Kata tersebut.

Lucu? Memang lucu!

Semestinya sebagai seorang wasit dan juri FORKI harus mengenal Kata aliran sendiri dan Kata aliran lain. Jelasnya, hapal dengan Kata aliran sendiri ditambah ‘paling tidak’ memiliki perbendaharaan dua atau empat Kata aliran lain. Kenyataannya pada kasus di atas, juri Kata tidak demikian.

Lucunya lagi, malah ada juri Kata yang minim perbendaharaan Kata alirannya sendiri. Sehingga pernah salah dalam menilai penampilan atlet dari aliran yang sama. Atlet tersebut gerakannya sudah betul, tapi dikalahkan karena dianggap ada gerakan yang keliru. Padahal sang juri sendiri yang tidak hapal dengan Kata tersebut.

Idealnya, seorang juri Kata harus hapal semua Kata di alirannya, bukannya cuma Kata dasar plus dua-tiga Kata di atasnya. Ya, jika ia dari aliran Shotokan sudah sepatutnya tahu dengan 26 Kata Shotokan! Bagaimana mau menilai, jika koleksi Kata di kepalanya hanya 50 persen, bahkan mungkin 10 persen!

Ujung-ujungnya, atlet dikecewakan. Jerih payah latihan (dengan motivasi yang tinggi, tanpa mempedulikan apakah prestasinya nanti berbuah rupiah atau penghargaan serta pekerjaan), kemudian berakhir dengan keputusan di atas matras yang tidak masuk akal!

Sebuah fenomena yang unik tapi ‘menarik’.
Namun jika kembali kepada khittah manusia, manusia tidak ada yang sempurna.

Ya, jika memplesetkan lagunya Band Seurieus; “…wasit-juri… juga.. manusia….”

Kita pun, bisa salah dan khilaf...


READ MORE - Wasit-Juri Juga Manusia ... (1)

Senin, Mei 18, 2009

Beragam Jenis Bo

Sejak zaman dulu, manusia memanfaatkan berbagai peralatan keseharian sebagai senjata untuk mempertahankan diri Salah satu peralatan keseharian itu adalah tongkat.

Tongkat dari batang kayu atau bambu ini umumnya digunakan sebagai pemikul, baik memikul barang dagangan atau membawa ember kayu berisi air. Selain itu, tongkat juga dipakai sebagai alat bantu berjalan.

Konon, berdasar catatan sejarah, penggunaan tongkat sebagai senjata dipelopori oleh pendeta Zen Budha, Dharma Taisi atau Budhi Dharma pada pada tahun 517 SM.

Kemudian penggunaan tongkat sebagai senjata diajarkan kepada para murid dan pendeta di kuil Budha (kemudian dikenal sebagai kuil Shaolin) tempat Budhi Dharma mengabdikan hidupnya.

Seiring pengaruh seni beladiri Kungfu pada seni beladiri asli Okinawa, penggunaan tongkat sebagai senjata juga diterapkan kalangan pebeladiri di pulau kelahiran Karate tersebut.

Dalam khasanah beladiri di Okinawa, senjata tongkat ini dikenal dengan sebutan Bo. Keberadaan Bo melengkapi jenis persenjataan dalam beladiri Kobudo selain Sai (trisula), Kama (clurit) dan nunchaku (double stick).

Seperti halnya di Cina, dalam aktivitas keseharian masyarakat Okinawa fungsi tongkat juga menjadi alat pemikul (tenbin). Ketika keadaan memaksa, seperti halnya saat pemerintah kerajaan Jepang (1314 M) melarang masyarakat Okinawa membawa senjata tajam, Bo menjadi alternatif alat membeladiri.

Sebagai alat bertahan dan menyerang, ukuran Bo disesuaikan dengan postur tubuh pengguna. Standar Bo berupa batang kayu lurus sepanjang 180 cm dengan diameter titik tengah 3,25 cm dan diameter kedua ujung 2 cm.

Kontur Bo memang tidak sama antara tengah dan kedua ujung. Bagian tengah berdiameter lebih tebal dan bagian ujung mengecil. Hal ini bertujuan untuk keseimbangan, memudahkan penguasaan atau kontrol gerak, mengurangi kepadatan dan meningkatkan kelenturan.

Dari segi fisik, bentuk Bo sangat bervariatif. Selain berbahan kayu, juga ada berbahan bambu. Tentunya pemilihan bahan dan bentuk Bo terkait dengan selera pengguna dan pemanfaatan senjata tersebut.

Teknik memainkan tongkat ini antara kalangan pebeladiri di Cina dan Okinawa (Jepang), memiliki perbedaan yang mendasar, baik dari cara memegang maupun mengayunkan tongkat untuk menangkis dan menyerang.

Di tangan praktisi Kungfu atau Wushu, tongkat yang dikenal dengan nama toya ini dimainkan secara luwes dan penuh variasi gerakan. Sementara di tangan praktisi Kobudo dan Karate, pergerakan Bo lebih to the point, tidak banyak variasi namun langsung diarahkan untuk bertahan dan menghajar lawan. harry

READ MORE - Beragam Jenis Bo

Jumat, Mei 01, 2009

Muk Yan Jong ( II )

Sebagaimana artikel sebelumnya, ada 8 bagian latihan Muk Yan Jong. Berikut deskripsi latihan tersebut.

Bagian Pertama
Terdiri 10 gerakan dimulai jurus awal (posisi siap) kemudian menarik leher, tan sau kiri dan kanan dan jaun sau. Bagian ini menekankan kelincahan dan kekuatan kuda-kuda.

Bagian Kedua
Terdiri 10 gerakan, dimulai posisi awal kanan.

Bagian Ketiga
Terdiri 10 gerakan, dimulai menangkis di luar dan di dalam. Bagian ini juga mengajarkan cara melatih telapak tangan untuk menangkis dan menyerang.

Bagian Keempat
Terdiri 9 gerakan, mulai dari gerakan telapak tangan samping. Keutamaan latihan ini membiasakan tangan dan lengan mampu melakukan serangan balasan sambil menyelusup yang dibarengi tendangan samping yang cepat. Tujuan latihan ini untuk menguasai latihan keterapilan agar bisa melancarkan rangkaian gerakan ke depan segera setelah tangan menemukan celah atau peluang yang terbuka. Walau lawan terus menekan dan melancarkan pukulan, kita tetap bisa melakukan balasan dengan pukulan atau tendangan.

Bagian Kelima
Terdiri 21 gerakan, mulai tan sau ganda. Bagian ini melatih teknik menyelinap masuk menyerang ke daerah pertahanan lawan, sambil menyerang titik lemah lawan. Teknik ini mematikan, jika dilakukan dengan penyaluran tenaga yang tepat.

Bagian Keenam
Terdiri 15 gerakan yang dimulai fok sau. Bertujuan melancarkan aplikasi teknik tangan ganda atau po pai cheung.

Bagian Ketujuh
Terdiri 15 gerakan, dimulai gun sau kiri dan kanan. Penekanan latihan ditujukan pada perubahan bong sau menjadi cengkraman tangan yang dapat dipadukan dengan serangan tangan. Pada akhir latihan akan banyak ditekankan pada persiapan aplikasi tendangan jejak menyilang yang merupakan salah satu pamungkas teknik wing chun.

Bagian Kedelapan
Terdiri 26 gerakan, dimulai bong sau bawah kiri dan kanan dan diakhiri gerakan mundur atau menarik diri. Sebagian besar teknik tendangan ada di bagian ini.

Contoh Teknik Bagian Pertama






































ingin belajar Muk Yan Jong lebih lanjut...?
ikuti tutorial lengkapnya langsung dari Yip Man!
temui Yip Man di sini


READ MORE - Muk Yan Jong ( II )

Senin, April 20, 2009

Muk Yan Jong ( I )

Sekitar abad 17, para pendekar di kuil Shaolin sudah menggunakan berbagai alat bantu latihan yang akurat dan dinamis untuk berlatih kungfu. Teknologi yang digunakan cukup maju kala itu, berbagai kaidah mekanika diterapkan dalam membuat simulasi teknik pembelaan diri.

Penggunaan katrol, bandul kayu, pegas, tenaga hidrolik lazim dipakai untuk menguji dan melatih keterampilan. Boneka-boneka kayu juga umum digunakan.

Pada kungfu aliran wing chun yang diciptakan seorang wanita bernama Yim Wing Chun, murid pendeta Shaolin bernama Ng Mui, sangat dikenal prototip boneka kayu yang sangat efektif karena memiliki dua lengan, kaki, dengkul yang mewakili gerakan menyerang mansuia.

Boneka kayu yang disebut Muk Yan Jong digunakan sebagai ‘mitra’ berlatih dalam kungfu wing chun. Kemudian alat ini juga diadopsi oleh kungfu aliran lain dari Cina Selatan dan kini juga dipakai oleh seni beladiri non kungfu.

Menurut legenda, sebelum kuil Shaolin pertama kali hancur (diserang pasukan dinasti penguasa kala itu), terdapat sebuah gua yang di dalamnya berisi 108 buah alat simulasi terbuat dari kayu yang setiap set mewakili satu jurus wing chun.

Beberapa abad kemudian dikenal adanya boneka kayu yang mampu bergerak dinamis dan dapat digunakan berlatih hingga 108 jurus.

Muk Yan Jong kemudian dipopulerkan oleh generasi penerus wing chun, yakni Yip Man (Ip Man). Bagi yang pernah nonton film Ip Man (produksi tahun 2008) yang diperankan oleh Donnie Yen, pasti ingat dengan tokoh legendaris kungfu wing chun yang satu ini.

Yip Man yang lahir 1893 dan meninggal pada 1972 memiliki seorang putra bernamaYip Chun yang kini menjadi pewaris wing chun (kemudian mendirikan Yip Man Martial Arts Associaton di Hongkong). Murid Yip Man yang terkenal adalah Liong Siau Lung alias Bruce Lee.

Muk Yan Jong sudah menjadi alat wajib bagi Yip Man dalam berlatih wing chun. Sehingga ia dikenal memiliki tangan yang kokoh dan konon dalam suatu peristiwa ia mampu membengkokkan picu pistol (dalam film Ip Man adegan ini digambarkan dengan melepas tempat peluru pistol colt saat pistol tersebut diacungkan polisi Cina ke wajah Yip Man).

Jong menurut arti harfiah adalah gelondongan kayu yang ditancapkan di atas tanah. Alat ini dibuat dari batang kayu berserat halus dari pohon sejenis oak. Jika dulu ditancapkan ke tanah, sekarang dimodifikasi dengan membuat rangka dan dudukan yang tetap mampu memberi kelenturan balasan yang baik.

Desain Muk Yan Jong sangat memperhatikan bentuk serangan lawan. Penempatan lengan-lengan atas bersudut tertentu serta kemampuan ayun dan puntir batang-batang penyangga, membuat praktisi wing chun harus melakukan teknik tangkis-serang yang akurat dan presisi.

Alat ini bermanfaat untuk memperkuat tenaga, sensitivitas, melatih teknik pukulan dan tangkisan dibarengi latihan ketepatan posisi dan sudut penguasaan daerah lawan. Salah menangkis, memukul atau menendang, baik dari segi arah dan kekuatan, akan membuat kita hilang keseimbangan.

Saat ini ada 116 jurus atau gerakan baku untuk berlatih Muk Yan Jong yang dirangkum dalam delapan bagian latihan.

bersambung...

artikel berikutnya; ilustrasi latihan Muk Yan Jong

READ MORE - Muk Yan Jong ( I )

Sabtu, April 11, 2009

Padepokan, Dojo, Dao Chang, Dojang

Setiap perguruan beladiri di manapun, pasti memerlukan tempat berlatih. Apakah beladiri tersebut bersifat tradisional atau diajarkan di kalangan tertentu, keluarga misalnya, maupun modern yang bisa dipelajari masyarakat umum.

Tempat berlatih tersebut bervariasi dari segi ukuran. Luas tempat dan perlengkapan disesuaikan menurut keperluan masing-masing pengguna atau pemilik tempat latihan. Dari yang sangat tradisional, berupa bangunan sederhana yang bisa digunakan oleh empat hingga enam orang, hingga sebuah bangunan besar yang mampu menampung ratusan orang.

Tempat berlatih beladiri ini di Indonesia dinamakan Padepokan, sementara di Jepang bernama Dojo, sedangkan di China disebut Dao Chang dan di Korea dinamakan Dojang.

Apapun namanya yang jelas wahana latihan ini awalnya merupakan tempat para ahli beladiri menempa diri, baik secara fisik, mental maupun spiritual. Tempat tersebut dibuat sedemikian rupa agar bersuasana sakral. Sehingga usai latihan, dapat diteruskan dengan kegiatan peribadatan.

Lazimnya, setiap tempat latihan memiliki tata cara dan tradisi yang khas. Penataan ruang dalam (interior) seringkali dirancang sesuai kepentingan pemilik. Tempo dulu, banyak ahli beladiri menjadikan tempat tinggalnya sekaligus sebagai tempat latihan.

Arsitektur tempat latihan sangat beragam. Umumnya selalu ada ruang utama untuk latihan dan ada tempat khusus untuk menyimpan panji-panji dan tanda kebesaran perguruan. Jika berupa ruangan, di ruang itu juga dijadikan tempat untuk melakukan kegiatan ibadah, meditasi atau perenungan.

Elemen yang ada dalam sebuah tempat latihan tradisional umumnya berupa pintu, gapura atau gerbang yang di bagian atas dipasang tanda atau tulisan identitas perguruan. Di Jepang, fungsi gerbang ini sangat penting, karena penampilan sebuah gerbang menunjukkan peringkat atau kelas sebuah perguruan.

Abad 17 hingga 19, ukuran papan nama sebuah perguruan ditentukan akreditasinya oleh pemerintah Jepang. Sementara di China, papan nama perguruan adalah harga diri, sehingga jika papan nama ini dirusak oleh orang lain, merupakan penghinaan besar.

Elemen lainnya adalah penghubung ke masa lalu, yaitu berupa barang-barang peninggalan pendiri perguruan, antara lain gambar, foto, dokumen, buku, peta, silsilah, lambang-lambang perguruan dan lainnya lagi.

Semua barang berharga itu disimpan dan ditata dengan baik sehingga para penerus atau murid dapat mengingat para sesepuh dan diharapkan dapat memelihara rasa hormat kepada pendahulu.

Di Hombu Dojo Kodokan Judo yang merupakan dojo modern, benda-benda peninggalan Jigoro Kano, sang pendiri, tetap disimpan dan dirawat. Bahkan di satu sisi depan aula latihan yang luas, satu set kursi dan meja yang biasanya digunakan Kano duduk memperhatikan muridnya berlatih ditempatkan dalam ruang kaca.

Saat ini tempat latihan beladiri sudah banyak mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Sekarang yang namanya Padepokan, Dojo, Dao Chang, Dojang, sudah dilengkapi dengan fasilitas modern. Bahkan di Amerika dan Eropa sudah umum jika sebuah tempat latihan beladiri memiliki fasilitas tambahan berupa ruang kebugaran, kolam renang dan tempat mandi uap (spa).

Source: Duel (2000)

READ MORE - Padepokan, Dojo, Dao Chang, Dojang

Senin, Maret 30, 2009

Sensei, Renshi, Kyoshi, Shihan


Sensei, renshi, kyoshi, shihan, doshu, adalah istilah yang sering diucapkan seorang murid kepada sang guru maupun terhadap seseorang yang lebih tinggi tingkatannya dalam seni beladiri Jepang/Okinawa.

Apa arti masing-masing panggilan tersebut dan bagaimana menerapkannya secara tepat?

Sistem tingkatan (kyu) yang ditandai dengan warna sabuk sangat umum digunakan dalam seni beladiri. Awalnya sistem ini diciptakan oleh Jigoro Kano, pendiri Kodokan Judo.

Kano adalah seorang pendidik bergelar professor, ia mengetahui bahwa seseorang akan memberikan respon yang lebih baik kepada tujuan jangka pendek dibandingkan dengan tujuan jangka panjang. Karena itu, Kano membagi tingkatan atau rangking untuk masing-masing tahapan untuk mendorong murid giat berlatih.

Konsep ini kemudian diadopsi oleh Gichin Funakoshi, guru besar Karate Shotokan, selanjutnya diterima pula oleh aliran karate lainnya serta berbagai perguruan seni beladiri di Jepang hingga diadopsi pula di negara lain.

Sistem ini tetap dipertahankan dan kini orang berlatih beladiri di samping untuk berprestasi juga untuk mencapai tingkatan berikutnya dengan tanda warna sabuk berbeda.

Mengenai warna, sebenarnya telah lama digunakan dalam kuil-kuil untuk membedakan tingkatan. Kano mengadaptasi konsep ini untuk mempertegas tingkatan dalam seni beladiri.

Warna putih adalah simbol kemurnian seorang pemula, warna hitam menunjukkan akumulasi pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun latihan.

Sebelum dikenal sistem sabuk, dalam dunia seni beladiri Jepang digunakan metode tingkatan dengan pemberian sertifikat khusus kepada para murid. Sertifikat pertama yang mengakui seseorang sebagai murid adlaah Shodan, artinya pemula. Sertifikat kedua, Chudan, menunjukkan tingkat menengah atau keseriusan dalam latihan. Kemudian sertifikat Jodan, di mana murid diizinkan memasuki Okuden, suatu tradisi rahasa dalam ryu (aliran beladiri).

Metode kuno lainnya menggunakan sistem lisensi Menkyo. Kelas permulaan adalah Kirikami, diberikan kepada murid yang telah berlatih selama 3 tahun. Pemberian kirikami berarti sang murid telah diterima dalam ryu sebagai praktisi yang serius. Tingkatan berikutnya adalah Mokuroku atau catatan sistem waza (teknik) yang menunjukkan sejauhmana pengetahuan murid.

Jika setelah 2-10 tahun murid tersebut telah menunjukkan dedikasinya terhadap perguruan serta memiliki kemampuan untuk mengajar, maka diberikan tingkatan Menkyo atau lisensi untuk mengajar. Pemegang lisensi ini mendapat beberapa gelar atau panggilan, antara lain Sensei, Shihan, Renshi, Kyoshio atau Hanshi, tergantung pada sistem yang dipakai masing-masing perguruan.

Tingkatan terakhir yang diberikan pada sistem Menkyo adalah Kaiden. Tingkatan ini menunjukkan bahwa murid telah mempelajari semua ilmu di perguruan atau aliran. Tingkatan ini biasanya diberikan guru besar kepada murid yang paling dekat dan dipercaya menjadi penerus.

Demikian juga panggilan menurut tingkatan, masih ada berbagai sebutan tergantung pada sistem yang digunakan. Para kepala kuil dikenal sebagai Osho atau Soke. Osho berarti serdadu perdamaian yang diterjemahkan dalam kaitan dengan kuil-kuil Budha. Soke diartikan kepala rumah.

So dikaitkan dengan seni beladiri yang lebih tepatnya diterjemahkan sebagai guru daripada kepala. Misalnya, Taisho (guru agung), Soshi atau Doshu (guru kepala), Sosho (guru suatu seni), Kaiso (cikal bakal), Shodai (guru kepala generasi pertama, meski adapula mengartikan sebagai pendiri), kemudian Nidai Soke dan Sandai Soke (generasi kedua dan ketiga).

Sementara dua istilah yang kerap salah diterjemahkan sebagai pendiri atau semacam headmaster adalah Kaicho dan Kancho. Kaicho berarti presiden asosiasi atau ryu, sedangkan Kancho adalah kepala suatu aliran yang biasanya mengajarkan ryu tertentu.

Seorang headmaster ataupun hanya murid senior dapat menjadi Kaico atau Kancho. Misalnya ketika seorang guru besar menyadari bahwa putranya sebagai pewaris perguruan masih berusia terlalu muda, sehingga sebelum meninggal ia akan menamakan putranya Sandai Soke dan memberikan gelar Kancho kepada murid paling senior.

Sensei adalah istilah generik untuk semua guru, meski sebagian organisasi memberikan gelar ini secara khusus kepada orang telah memenuhi syarat untuk mengajar. Mengajar dianggap sebagai tanggung jawab yang harus diemban, bukan merupakan hak otomatis, bersamaan dengan sabuk hitam yang diperoleh.

Jika tidak diterjemahkan secara harfiah, Sensei berarti kehidupan sebelumnya. Sebagian besar gelar Sensei dipakai untuk menandakan bahwa seseorang telah mampu mengajarkan apa yang dipikirkannya dan tingkatan kreativitas lebih tinggi belum tercapai.

Renshi adalah panggilan diberikan kepada seseorang yang qualified dan telah mengabdikan diriya kepada seorang guru besar. Terjemahan harfiahnya, guru ahli mendidik.

Kyoshi diterjemahkan sebagai instruktur senior atau instruktur kepala, sedangkan makna yang sebenarnya adalah guru yang dipercaya. Orang yang mendapat gelar ini dianggap sebagai pendukung setia dari ryu.

Shihan adalah panggilan lain yang digunakan untuk menunjukkan penguasan suatu seni beladiri. Beberapa perguruan seni beladiri ada yang menandai gelar ini dengan pemakain sabuk berwarna merah dan putih, karena penguasan ilmunya dianggap lebih tinggi dari sabuk hitam.

Salah satu panggilan paling jarang digunakan namun paling berarti dalam seni beladiri bangsa Jepang/Okinawa adalah Meijin. Biasanya diberikan kepada pelatih yang berusia lanjut dan telah menunjukkan dedikasi, komitmen dan pengabdian khusus pada seni beladiri yang dipelajarinya. Meijin berarti orang bijaksana yang berkaitan dengan kemampuan spiritualnya yang tinggi.

Source: Duel (1999)
READ MORE - Sensei, Renshi, Kyoshi, Shihan

Kamis, Maret 19, 2009

Jackie Chan + Jet Lee = Tony Jaa

Aktor laga bernama asli Panom Yeerum ini sedang naik daun di dunia perfilman Thailand, terutama bergenre martial arts.

Aksi yang memukau dengan perpaduan teknik beladiri dan akrobatik, membuat film-film Tony Jaa selalu ditunggu pecinta sinema. Tony Jaa seolah menjadi fenomena baru, ia merupakan generasi baru aktor laga Asia setelah Bruce Lee, Jackie Chan dan Jet Lee.

Istimewanya, jika selama ini aktor laga Asia yang mendunia lebih didominasi aktor dari negeri tirai bambu dan matahari terbit, sekarang dari negeri gajah putih unjuk diri.

Kemampuan beladiri mantan stuntman berusia 32 tahun ini sebagai aktor utama memang memukau. Kemampuannya bisa disejajarkan dengan aktor laga ternama lainnya.

Boleh dibilang, Tony Jaa adalah perpaduan antara Jackie Chan dan Jet Lee, dua aktor yang memang diidolakan Tony sejak muda.

Thailand mampu membuat film laga hebat yang bisa disejajarkan dengan kreasi Hongkong juga Hollywood. Thailand juga mampu melahirkan idola beladiri baru di dunia perfilman internasional.

Nah, kapan Indonesia bisa demikian? Membuat film laga berkualitas yang layak ditonton dunia internasional dengan pemain lokal yang benar-benar pribumi (bukan blasteran) dengan kemampuan beladiri tradisional negara kita.

Film laga jika dikemas dengan baik (tidak sekedar bak-bik-buk) dapat mempromosikan seni budaya kita dan mempopulerkan negara kita di mata dunia.

Tantangan bagi sineas tanah air.


READ MORE - Jackie Chan + Jet Lee = Tony Jaa

Kamis, Maret 05, 2009

Mokuso dan Mokuto


Karate diawali dengan penghormatan dan diakhiri dengan penghormatan. Demikian dikatakan Gichin Funakoshi, guru besar Shotokan.

Implementasinya di atas, di awal dan akhir latihan karate, selalu dilakukan upacara tradisional Karate atau reishiki.

Reishiki yang umum dilakukan beberapa perguruan Karate di Indonesia, urutannya yaitu;
  • Pembacaan Sumpah Karate
  • Penghormatan Bendera Merah Putih dan Lambang Perguruan
  • Menenangkan Pikiran
  • Penghormatan Kepada Pelatih
  • Penghormatan Kepada Sesama Rekan/Karateka dan Tempat Latihan

Fokus pada urutan ketiga, yakni menenangkan pikiran, aba-aba atau instruksinya adalah mokuso. Dipraktikkan dengan menundukkan kepala sejenak sambil mengatur napas dengan memejamkan mata, kemudian berdoa dalam hati.

Berkait aba-aba untuk menenangkan pikiran tersebut, Abdul Wahid dalam bukunya; Shotokan, Sebuah Tinjauan Alternatif Terhadap Aliran Karate Terbesar Di Dunia, menyatakan bahwa penyebutan yang benar adalah mokuto, bukan mokuso atau makuso.

Koreksi dalam pengucapan istilah atau kata memang perlu, apalagi bahasa yang digunakan dalam pelatihan Karate sebagian besar menggunakan bahasa Jepang yang notabene bahasa asing bagi kita.

Meski demikian timbul penasaran di hati saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang dua kata tersebut; mokuso dan mokuto.

Ketika membuka salah satu kamus besar bahasa Jepang-Indonesia, ternyata dua kata itu tercantum dalam halaman kata-kata beralfabet M.

Berdasar kamus tersebut, mokuso artinya menenangkan pikiran atau pikiran yang tenang. Sementara mokuto berarti berdoa dalam hati.

Nah, kembali pada aba-aba saat upacara tradisional Karate, mengucapkan mokuso adalah benar dan mengucapkan mokuto juga tidak salah.

Kalau merujuk pada instruksi untuk menenangkan pikiran, kata yang tepat adalah mokuso. Sebaliknya jika maksud si pemimpin upacara adalah menginstruksikan para karateka untuk berdoa dalam hati, kata yang pas; mokuto.

harry
READ MORE - Mokuso dan Mokuto

Senin, Februari 09, 2009

Pelajaran dari Tameshiwari


Tameshiwari atau teknik mematahkan, menghancurkan atau memecahkan benda keras, menjadi sebuah tontonan menarik yang kerap ditampilkan pada even seni beladiri.

Kemampuan fisik mematahkan potongan kayu, stik base ball, batang besi, kikir, menghancurkan tumpukan bata, genteng, balok es dan sebagainya ini dipelajari di sejumlah perguruan seni beladiri, salah satunya Karate dan memang istilah Tameshiwari sendiri berasal dari seni beladiri negeri matahari terbit tersebut.

Masing-masing perguruan memiliki metode latihan tameshiwari . Ada yang menerapkan latihan pernapasan yang berkorelasi dengan penghimpunan tenaga dalam, adapula hanya mengandalkan latihan fisik semata.

Terlepas dari bagaimana melatih tameshiwari, jika dikaji lebih jauh ilmu ini memberikan banyak pelajaran bagi praktisi beladiri.

Agar tangan, kaki, kepala dan berbagai anggota tubuh lainnya mampu 'mengalahkan' benda keras, diperlukan latihan rutin yang memakan waktu panjang.
Di sinilah dituntut ketekunan, kerja keras, kesabaran dan kehati-hatian dalam mencapai satu tujuan.

Sebelum mempraktikkan tameshiwari, terlebih dahulu melakukan persiapan diri.
Di sini diperlukan konsentrasi, pengendalian diri, peningkatan keyakinan dengan berdoa dan sugesti yang kuat sehingga timbul kepercayaan diri .

Nah, dengan berlatih tameshiwari, tidak semata peningkatan kemampuan fisik yang kita dapat, tapi juga peningkatan mental dan spiritual.
harry

READ MORE - Pelajaran dari Tameshiwari

Jumat, Januari 30, 2009

t=v1+v2, cara cepat meningkatkan traffic dan popularity

Ketika anda baca judul postingan ini mungkin anda bingung,apa sih rumus t=vi+v2, Saya aja bingung banget awalnya, kemudian saya lanjutkan membaca postingan dibawah ini. bagi yang tertarik coba aja trik ini. tapi ingat harus jujur ya!!!!!


---------------- Copy mulai disini------------------

Mohon baca baik-baik lalu terapkan dengan benar....

Sebuah filosofi mengatakan Honesty is The Best Policy (Kejujuran adalah politik / strategi terbaik) , inilah yang akan kita buktikan.... apakah konsep kejujuran bisa kita olah menghasilkan traffic dan popularity yang lebih hebat dari konsep rumit para expert webmaster atau pakar SEO..?... Saya yakin bisa asal konsep ini di jalankan dengan benar..., bila ini di terapkan pada web anda sesuai ketentuan, maka:
  • Web anda akan kebanjiran traffic pengunjung secara luar biasa hari demi hari, tanpa perlu repot-repot memikirkan SEO atau capek-capek promosi keberbagai tempat di dunia internet.
  • Web anda akan kebanjiran backlink secara luarbiasa hari demi hari, tanpa perlu repot-repot berburu link ke berbagai tempat di dunia internet.


Jika Albert Einstein memakai persamaan e=mc2 untuk menggabungkan potensi masa dan kecepatan cahaya untuk menghasilkan energi nuklir yang luar biasa itu ,maka kita akan memakai persamaan t=v1+v2 untuk mnggabungkan potensi web saya dan web anda untuk menghasilkan traffic dan popularity yang luar biasa pula.

Jika Einstein menggunakan atom plutonium dan uranium untuk membuat bom nuklir, maka kita menggunakan Kejujuran dan ketepatan untuk membuat bom traffic dan popularity ini.

Yang perlu anda lakukan adalah ikuti langkah-langkah berikut :

Buat posting artikel seperti posting saya ini, atau copy-paste posting ini dari kalimat Copy mulai di sini sampai kalimat Selesai, dan juga diberi judul : t=v1+v2 ,Cara Cepat Meningkatkan Traffic dan Popularity .

  1. Selanjutnya Copy atau buat KALIMAT SAKTI yang ada di bawah nomor 3 ini lalu pasang di web anda pada bagian yang paling mudah dilihat pengunjung, misalnya di bagian atas sidebar
  2. Pindahkan atau ganti link atau alamat url posting (di sini-1) dengan alamat URL anda dan (di sini-2) dengan alamat postingan URL saya, untuk mengetahui alamat url posting saya dan posting yang anda buat adalah bisa dengan meng-klik judul / title posting yang kita buat ini lalu copy address bar-nya

Berikut tulisan "KALIMAT SAKTI" yang perlu anda pasang di bagian web anda (setelah di ganti link url-nya sesuai ketentuan di atas)

"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda, GRATIS! Klik di sini-1 dan di sini-2"

-Jadi setelah KALIMAT SAKTI ini di letakan di web anda maka: jika pengunjung meng-klik link disini-1akan menuju link posting anda, dan jika meng-klik disini-2 akan menuju link posting saya...dan seterusnya kan terus terjadi mata rantai yang tak terputus seperti itu...

Selesai, siapkan counter tracker dan pengecek link misalnya sitemeter dan technorati untuk melihat hasil banjir traffic dan linkback web anda.

Apa itu t=v1+t2...?
t : Jumlah traffic yang akan di peroleh web anda dalam suatu hari
v1 : Jumlah pengunjung web anda dalam suatu hari
v2: Jumlah pengunjung yang dimiliki v1 (pengunjung dari pengunjung web anda) dalam suatu hari.

Traffic:
Misalnya, web saya ini atau web anda dalam sehari memiliki rata-rata pengunjung 50 orang.., dan semuanya menerapkan konsep kita ini (KALIMAT SAKTI) dengan benar, dan dari 50 orang itu masing-masing memiliki 50 orang pula pengunjung dari blog-nya , maka web kita akan berpeluang di kunjungi 50 ditambah 50 x 50 orang pada hari itu = 2550 orang , dan akan berpeluang terus meningkat pula hari demi hari ,karena setiap hari selalu ada pengunjung baru di dunia internet, setiap hari juga ada blogger atau web baru di dunia internet...BUKTIKAN

Popularity:
Misalnya, web kita memiliki pengunjung 50 orang dalam suatu hari, dan semuannya menerapkan konsep ini , maka dalam hari itu web anda akan mendapatkan 100 linkback ke web anda, yaitu sebuah link pada KALIMAT SAKTI dan sebuah link pada link saya di kalikan 50. dan akan berpeluang meningkat terus hari demi hari....

Kenapa perlu di buat link link anda dan link saya pada posting...?
hal ini untuk menjaga keabadian link kita, karena seperti kita tau link pada posting lebih kecil kemungkinannya terhapus....

Bisakah kita berbuat tidak fair atau tidak jujur menyabotase konsep ini, misalnya "menghilangkan semua link asal" lalu di isi dengan web/blog kita sendiri...? Bisa! Dan konsep ini tidak akan menjadi maksimal untuk membuktikan Kejujuran adalah strategi / politik terbaik.....Tapi saya yakin bahwa kita semua tak ingin menjatuhkan kredibilitas diri sendiri dengan melakukan tindakan murahan seperti itu...

READ MORE - t=v1+v2, cara cepat meningkatkan traffic dan popularity

Selasa, Januari 13, 2009

'Pembantaian' Sabuk Coklat

Bagi para sebagian Karateka, menyandang sabuk coklat merupakan suatu kebanggan. Ya, karena sabuk coklat sudah menandai senioritas dan mendekati jenjang Kuro Obi alias sabuk hitam.

Pemegang sabuk coklat, kadang diminta oleh Senpai atau Sensei untuk membantu melatih para Karateka sabuk biru ke bawah. Status sebagai asisten pelatih, merupakan penghargaan tersendiri, menyiratkan bahwa sang Karateka sabuk coklat sudah memiliki kemampuan untuk mengajar para kohai lainnya.

Namun di balik kebanggan sebagai penyandang sabuk coklat, sebenarnya ada ketakutan dan kekhawatiran yang tersembunyi di hati.

Beberapa perguruan Karate menerapkan beberapa kali penurunan Kyu bagi Karateka sabuk Coklat yang jika dihitung memakan waktu hingga 2 tahun (dengan catatan selalu ikut ujian).

Contoh, pertama kali Sabuk Coklat Kyu-nya 3,5. Untuk bisa ujian ke sabuk hitam diharuskan minimal Kyu 1,5. Setiap kali ujian penurunan Kyu, biasanya hanya turun setengah, dari 3,5 menjadi 3. Ujian lagi, turun jadi 2,5, kemudian 2, sampai 1,5.

Ujian diadakan per enam bulan, berarti mulai Kyu 3,5 hingga Kyu 1,5 diperlukan 4 kali ujian penurunan Kyu. Berarti waktunya 2 tahun.

Beberapa kali ujian penurunan Kyu itulah yang kadang membuat keder para Karateka Sabuk Coklat. Soalnya, ujian bagi Sabuk Coklat lebih berat dibanding ujian sabuk di bawahnya.

Satu 'tradisi' saat ujian Sabuk Coklat adalah Kumite. Jika kumite dengan sesama Sabuk Coklat sih tidak masalah, ini kumite dengan Majelis Sabuk Hitam (MSH).

Sudah harus menghadapi tendangan dan pukulan serta bantingan para Kuro Obi, kadangpula ada perguruan yang menerapkan aturan; tidak boleh membalas setiap serangan, yang boleh hanya mengelak atau menangkis.

Konon, Kumite jenis ini ini maksudnya untuk membina mental para Sabuk Coklat sekaligus mengetahui sejauhmana kemampuan teknik mereka dalam menghadapi serangan. Namun ironisnya, kerap kali tradisi ini menjadi ajang show of force para MSH.

Di hadapan para peserta ujian lainnya dan sejumlah penonton ujian, kadang beberapa MSH ingin menunjukkan kehebatannya namun dengan teknik-teknik tak terkontrol. Serangan dilancarkan powerfull, full speed dan seolah tak menyisakan ruang dan waktu untuk mengelak, menangkis, apalagi mengatur napas.

Jika kepalan atau tendangan belum tepat mengenai sasaran, kohai akan terus diburu ke manapun ia menghindar. Ibaratnya, serangan tak akan berhenti, sebelum knock down!

Maksudnya menguji, malah 'membantai.'

Ya, tak jarang para Sabuk Coklat harus babak belur dan berdarah-darah, bahkan KO dan pingsan, saat menjalani prosesi Kumite tak seimbang ini.

'Kengerian' ujian penurunan Kyu ini kadang menjadi sebab berhentinya 'karir' sang Karateka hingga di Sabuk Coklat. Tak begitu banyak yang punya keberanian untuk terus maju hingga sampai di akhir Kyu dan berkesempatan mengikuti ujian Sabuk Hitam.

Sebenarnya, Kumite model ini tidak salah. Boleh saja dilakukan, asal benar-benar berlandaskan pada tujuan menguji. Serangan dilakukan terkontrol dan manusiawi sehingga kohai pun bisa berpikir taktis, menerapkan teknik yang baik untuk menghindar dan mengelak.

Bagus lagi, sang Sabuk Coklat diperbolehkan untuk melakukan serangan balasan sehingga terjadi pertukaran teknik yang seimbang. Jika ada MSH yang kena pukul atau tendang, bahkan terbanting, berarti kemampuannya masih setara dengan yang diuji.

Teknik MSH saat menghadapi serangan akan menjadi pembelajaran bagi yang diuji dan para kohai lainnya yang menonton. "Oh, begitu caranya jika kita diserang..."

harry
READ MORE - 'Pembantaian' Sabuk Coklat