Selasa, Januari 13, 2009

'Pembantaian' Sabuk Coklat

Bagi para sebagian Karateka, menyandang sabuk coklat merupakan suatu kebanggan. Ya, karena sabuk coklat sudah menandai senioritas dan mendekati jenjang Kuro Obi alias sabuk hitam.

Pemegang sabuk coklat, kadang diminta oleh Senpai atau Sensei untuk membantu melatih para Karateka sabuk biru ke bawah. Status sebagai asisten pelatih, merupakan penghargaan tersendiri, menyiratkan bahwa sang Karateka sabuk coklat sudah memiliki kemampuan untuk mengajar para kohai lainnya.

Namun di balik kebanggan sebagai penyandang sabuk coklat, sebenarnya ada ketakutan dan kekhawatiran yang tersembunyi di hati.

Beberapa perguruan Karate menerapkan beberapa kali penurunan Kyu bagi Karateka sabuk Coklat yang jika dihitung memakan waktu hingga 2 tahun (dengan catatan selalu ikut ujian).

Contoh, pertama kali Sabuk Coklat Kyu-nya 3,5. Untuk bisa ujian ke sabuk hitam diharuskan minimal Kyu 1,5. Setiap kali ujian penurunan Kyu, biasanya hanya turun setengah, dari 3,5 menjadi 3. Ujian lagi, turun jadi 2,5, kemudian 2, sampai 1,5.

Ujian diadakan per enam bulan, berarti mulai Kyu 3,5 hingga Kyu 1,5 diperlukan 4 kali ujian penurunan Kyu. Berarti waktunya 2 tahun.

Beberapa kali ujian penurunan Kyu itulah yang kadang membuat keder para Karateka Sabuk Coklat. Soalnya, ujian bagi Sabuk Coklat lebih berat dibanding ujian sabuk di bawahnya.

Satu 'tradisi' saat ujian Sabuk Coklat adalah Kumite. Jika kumite dengan sesama Sabuk Coklat sih tidak masalah, ini kumite dengan Majelis Sabuk Hitam (MSH).

Sudah harus menghadapi tendangan dan pukulan serta bantingan para Kuro Obi, kadangpula ada perguruan yang menerapkan aturan; tidak boleh membalas setiap serangan, yang boleh hanya mengelak atau menangkis.

Konon, Kumite jenis ini ini maksudnya untuk membina mental para Sabuk Coklat sekaligus mengetahui sejauhmana kemampuan teknik mereka dalam menghadapi serangan. Namun ironisnya, kerap kali tradisi ini menjadi ajang show of force para MSH.

Di hadapan para peserta ujian lainnya dan sejumlah penonton ujian, kadang beberapa MSH ingin menunjukkan kehebatannya namun dengan teknik-teknik tak terkontrol. Serangan dilancarkan powerfull, full speed dan seolah tak menyisakan ruang dan waktu untuk mengelak, menangkis, apalagi mengatur napas.

Jika kepalan atau tendangan belum tepat mengenai sasaran, kohai akan terus diburu ke manapun ia menghindar. Ibaratnya, serangan tak akan berhenti, sebelum knock down!

Maksudnya menguji, malah 'membantai.'

Ya, tak jarang para Sabuk Coklat harus babak belur dan berdarah-darah, bahkan KO dan pingsan, saat menjalani prosesi Kumite tak seimbang ini.

'Kengerian' ujian penurunan Kyu ini kadang menjadi sebab berhentinya 'karir' sang Karateka hingga di Sabuk Coklat. Tak begitu banyak yang punya keberanian untuk terus maju hingga sampai di akhir Kyu dan berkesempatan mengikuti ujian Sabuk Hitam.

Sebenarnya, Kumite model ini tidak salah. Boleh saja dilakukan, asal benar-benar berlandaskan pada tujuan menguji. Serangan dilakukan terkontrol dan manusiawi sehingga kohai pun bisa berpikir taktis, menerapkan teknik yang baik untuk menghindar dan mengelak.

Bagus lagi, sang Sabuk Coklat diperbolehkan untuk melakukan serangan balasan sehingga terjadi pertukaran teknik yang seimbang. Jika ada MSH yang kena pukul atau tendang, bahkan terbanting, berarti kemampuannya masih setara dengan yang diuji.

Teknik MSH saat menghadapi serangan akan menjadi pembelajaran bagi yang diuji dan para kohai lainnya yang menonton. "Oh, begitu caranya jika kita diserang..."

harry

3 komentar:

Lemkari.Cimanggis mengatakan...

Salam karate.. Osh!
jadi ingat waktu sabuk coklat dulu...
Saya setuju dengan metode kumite dojo ini, bahkan jika peraturannya sang sabuk coklat tidak boleh membalas sekalipun. Justru dengan adanya batasan ini malah sabuk coklat mempunyai kreatifitas dalam menangkis dan mengelak. Pernah saya mau dimaegeri sama senior.. tapi dengan keyakinan penuh saya tangkis dengan gedan barai sebelum maegerinya terbentuk... (walau tangan jadi merah-merah).. lumayan sabuk hitamnya urung melakukan tendangan lagi... he..he..he
Tapi...
memang yang paling penting mental mereka baik yang menguji maupun yang akan diuji.. semua harus dalam kondisi yang penuh persaudaraan.. jika hal itu terwujud, hal-hal negatif akan hilang dengan sendirinya.

Andi
Cimanggis

beladirikita mengatakan...

Osu,
terima kasih komentarnya,
yang jelas dalam kumite dojo semestinya lebih dititikberatkan misi pembinaan bukan menghancurkan,
jika tradisi hantam kromo ini tidak diubah, akhirnya menjadi turun temurun, kita yg pernah dibabakbelurkan senior saat sabuk coklat, kemudian hari ketika menjadi sabuk hitam akan melakukan hal serupa kepada yunior yg sabuk coklat, demikian seterusnya.

MABES mengatakan...

hahaha...pernah neh kayak gini...
Kalau mau melatih mental seh boleh aja...tapi bukan hanya disabuk coklat saja! seharusnya diterapkan sejak awal. Membentuk mental itu gak bisa sekaligus dibantai di sabuk coklat, malah nantinya cenderung sombong. Tapi dimulai dari sabuk putih. Contohnya saja pola pelatihan yang diterima master itosu :p

Lagipula yang namanya kumite dojo seharusnya terjadi "komunikasi 2 arah" artinya saling menyerang dan menangkis dengan semua teknik yang dimiliki. Karena klo pada pertandingan teknik yang keluar kan itu2 aja... :D
tapi perlu diingat...bahwa kumite itu juga perlu pengontrolan. lah...master chojun miyagi sendiri pernah nasehatin gt secara implisit :p

* kalau sekarang seh MSH yang dulu pernah bantai gw mah gw lawan sambil ngupil aja sekarang :D