Kamis, November 24, 2011

Nunchaku Tradisional & Modern

Nunchaku awal (kayu kekang kuda)
Senjata tumpul yang satu ini boleh dibilang sebagai senjata beladiri paling popular di dunia.

Kepopularan nunchaku dimulai ketika mendiang Bruce Lee menggunakan nunchaku dalam aksi laga di sejumlah filmnya.

Sejatinya, nunchaku adalah senjata ‘dadakan’ masyarakat Okinawa tempo doeloe. Nunchaku muncul karena kala itu ada larangan dari kerajaan bahwa masyarakat tidak boleh membawa senjata tajam di luar rumah.  Bagi yang melanggar, bersiap menghadapi para samurai yang tidak segan menebaskan katana-nya.

Nunchaku melawan pedang
Kata nunchaku dipercaya berasal dari pelafalan Jepang terhadap istilah Cina untuk tongkat dua bagian (Chang Xiao Ban). Namun bisa saja berasal dari nun (ヌン), berarti "kembar" dan shaku (尺), panjang rata-rata dua bagian nunchaku.
Ada dua versi muasal nunchaku. Kabarnya, nunchaku adalah sepasang kayu kekang kuda yang digunakan sebagai senjata. Kabar lainnya, nunchaku adalah alat pertanian berupa sepasang kayu pendek yang disambung dengan tali berbahan potongan ekor kuda. Gunanya, mengapit ikatan rumpun padi yang baru dipanen untuk dipukulkan sehingga bulir padi mudah lepas.

Terlepas soal dua versi di atas, nunchaku kemudian menjadi senjata resmi seni beladiri kobudo. Modifikasi nunchaku kemudian menjadi beberapa bentuk, ada nunchaku tradisional berbentuk sepasang kayu bulat bersambung tali, adapula nunchaku bersambung rantai untuk kategori nunchaku modern.

Gaya nunchaku modern
Nunchaku modern juga banyak ragamnya. Sepasang kayu bulat diganti menjadi sepasang besi atau aluminium berbentuk pipa. Adalagi bahan plastik yang di dalamnya menggunakan lampu otomatis. Saat nunchaku dimainkan, lampu tersebut menyala warna-warni

Selain bentuk yang dimodifikasi, teknik permainan nunchaku juga semakin atraktif. Jika versi kobudo tekniknya monoton dan umumnya menggunakan satu nunchaku, maka versi modern tekniknya variatif dan satu atau dua nunchaku sekaligus. Teknik variatif lainnya, nunchaku diputar di sela jemari atau melempar nunchaku ke udara.  Bermain nunchaku sambil salto atau melakukan tendangan melompat.

Satu hal mendasar, cara memegang nunchaku gaya tradisional (kobudo) adalah di bagian bawah batang kayunya. Sedangkan gaya modern, tidak terikat aturan, umumnya memegang di bagian atas dekat sambungan kedua batang kayu.

Jika nunchaku tradisional ada rangkaian jurus (kata) yang harus dimainkan, nunchaku modern bebas merangkai koreografi, sesuai improvisasi praktisinya.

By Harry

READ MORE - Nunchaku Tradisional & Modern

Minggu, April 24, 2011

Efektifitas Kyusho-Jutsu

Dalam karate diistilahkan Kyusho-Jutsu, beladiri lain menyebut Dim-Mak. Sedangkan dunia beladiri barat menyebutnya pressure point (titik tekan), vital point (titik vital), pain point (titik sakit) atau nerve strike (serangan/pukulan ke arah syaraf). Kalau dalam khasanah beladiri Indonesia sering dikatakan sebagai teknik totok.

Teknik ini cukup efektif untuk membeladiri di jalanan (street self defense) khususnya dalam posisi rapat atau jarak dekat.

Bagi perempuan, sangat wajib memiliki kemampuan Kyusho-Jutsu, karena dengan tenaga yang minimal, mampu melumpuhkan lawan dengan cepat. Tidak pandang seberapa besar tubuh lawan (gendut atau berotot), dengan teknik yang terlatih, lawan pasti ambruk.

Rasa sakit atau nyeri yang timbul akibat serangan ke titik vital membuat lawan hilang konsentrasi. Dalam beberapa menit lawan tidak bisa melanjutkan serangan, bahkan mungkin seolah tidak berdaya untuk kembali bangkit.

Mempelajari Kyusho-Jutsu ternyata banyak metodenya, beberapa metode yang sederhana antara lain menekan beberapa bagian tubuh yang terasa sakit/nyeri ketika ditekan. Cara menekan bisa dengan jempol, telunjuk ataju jari tengah.

Bagian tubuh yang lemah itu tersebar mulai kepala hingga ujung kaki. Beberapa buku seni beladiri, kerap mengilustrasikan posisi titik vital tersebut dengan gambar manusia dengan titik-titik di bagian depan dan belakang badan.

Metode lainnya, untuk melatih daya tekanan adalah memejamkan mata kita kemudian menekan bola mata dengan jari (maksudnya, kelopak mata yang ditekan). Tapi jangan sampai membuat mata kita sakit.

Latihan ini hanya untuk mengetahui seberapa jauh harus menekan, kemudian hentikan sebelum mata merasa tidak nyaman. Latih kelima jari tangan kita secara bergantian. Latihan untuk mengatur tekanan dan sentuhan.

Latihan selanjutnya, merasakan detak jantung dengan jari. Tempelkan jari kita pada urat nadi di pergelangan. Rasakan denyut nadi tersebut. Setelah terasa, pindahkan jari ke bagian tubuh yang lain, bisa leher, badan, paha, betis dan lainnya.

Jika sudah bisa merasakan denyut nadi di berbagai titik yang ada di tubuh kita, teruslah dilatih secara rutin untuk menajamkan kepekaan. Ketika suatu saat menerapkan teknik ini, maka kita akan mudah dan cepat menyerang bagian tubuh tersebut.

harry


READ MORE - Efektifitas Kyusho-Jutsu

Senin, November 29, 2010

Asyiknya Systema


Menyimak beladiri Rusia ini, seperti melihat kombinasi teknik beberapa aliran beladiri di dunia. Meski dinyatakan bahwa Systema adalah berakar dari beladiri tradisional Rusia, namun tekniknya seperti gabungan antara kungfu, taichi, aikido, jujutsu, sambo, gulat dan lainnya.

Terlepas mirip atau tidak, yang jelas Systema merupakan seni beladiri yang asyik dipelajari. Systema yang awalnya khusus diajarkan untuk kalangan militer Rusia dan pasukan khusus Spetnaz ini tekniknya halus namun melumpuhkan. 

Tidak hanya teknik tangan kosong tapi juga teknik-teknik menggunakan senjata mulai dari senjata tumpul, senjata tajam hingga senjata api diajarkan dalam Systema. Selain teknik defensif, Systema juga mengajarkan teknik ofensif.
Menariknya pula, Systema khususnya  'aliran' Mikail Ryabko dan muridnya Vladimir Vasiliev,  mengajarkan teknik-teknik yang jarang diajarkan bahkan mungkin tidak diajarkan dalam beladiri lain, misalnya:
Teknik menggunakan berbagai benda di sekitar kita untuk membeladiri
Teknik membeladiri di ruangan sempit
Teknik membeladiri di dalam mobil
Teknik membeladiri di dalam air
Teknik mempengaruhi psikologis penyerang
Teknik mengolah tubuh agar tahan pukulan
Teknik menggunakan tenaga dalam secara alamiah dan praktis
Teknik menghadapi keroyokan hingga berpuluh orang
dan lainnya...

Teknik-teknik seperti di atas sangat diperlukan dalam keseharian, sehingga sangat menarik untuk dipelajari. Inilah yang diperlukan orang saat belajar beladiri, jadi tidak semata belajar teknik bertanding di atas matras atau ring. 

Belajar systema, menurut Vasiliev tidak perlu seragam, ritual, tingkatan sabuk, membentuk otot dan sebagainya yang umum terdapat dalam beberapa seni beladiri lain. Belajar systema seperti halnya belajar beladiri praktis yang tak perlu macam-macam aturan.

harry

READ MORE - Asyiknya Systema

Selasa, Oktober 26, 2010

Di atas leher, di bawah leher


James Gwee, motivator bisnis populer, pada sebuah seminarnya mengatakan, jika untuk urusan di bawah leher, kita tidak pernah memperhitungkan berapa uang yang kita keluarkan. Sementara untuk urusan di atas leher, kita seringkali berpikir dua kali untuk keluar uang.

Dijelaskan James Gwee, urusan di bawah leher itu misalnya membeli pakaian, beli handphone, beli makanan, beli aksesoris dan segala kepuasan lahiriah lainnya. Sedangkan urusan di atas leher adalah membeli buku, surat kabar, majalah pengetahuan, beli tiket seminar bisnis, bayar kursus keterampilan, beli video pengetahuan.

Artinya, urusan di bawah leher adalah segala keinginan yang berhubungan kepuasan hawa nafsu. Sedangkan urusan di atas leher adalah kebutuhan ilmu pengetahuan bagi otak kita.

Saya pun kadang demikian.
Kalau ingin makan enak, asal punya uang saya masuk ke restoran cepat saji dan memesan menu yang diinginkan. Tak pandang menu tersebut harganya Rp 50 ribu seporsi (belum termasuk minum). Padahal di luaran (misalnya, warung kaki lima) menu serupa cuma dibanderol Rp 10-15 ribu (termasuk minum). Kenyangnya pun sama.

Melihat handphone (hp) canggih produk terbaru, kepingin juga memiliki. Walaupun harganya Rp 1 juta, tak pikir dua kali, merasa punya uang, dibelilah hp tersebut. Padahal sebelumnya sudah punya hp, namun gengsi karena ketinggalan mode.

Giliran masuk ke toko buku, kerjanya hanya melihat-lihat. Numpang baca gratis seperti di perpustakaan. Soalnya harga buku rata-rata di atas Rp 50 ribu, bahkan ada yang Rp 150 ribu. Daripada keluar uang segitu, mendingan baca gratis, meski kadang diawasi satpam.

Ketika ada kursus kilat sebuah keterampilan atau seminar bisnis, hanya ingin cari gratisan. Daripada bayar ratusan ribu, lebih baik tunggu aja siapa teman yang ikut, kemudian nanya teman apa saja pelajaran yang diberikan.

Saya tersadar.
Urusan di atas leher adalah investasi, karena memberikan ilmu, pengetahuan, wawasan dan pengalaman baru.
Urusan di bawah leher, hanyalah mendapat kepuasan pribadi, gengsi dan gaya hidup.

harry

READ MORE - Di atas leher, di bawah leher

Jumat, Oktober 22, 2010

Gara-Gara Ip Man

Dunia seni beladiri ternyata memiliki tren tersendiri, seperti halnya dunia fashion (kalau boleh dikatakan demikian).

Fenomena di Indonesia adalah contohnya.

Ketika Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) masuk ke Indonesia akhir 90-an hingga awal 2000, banyak orang, khususnya praktisi seni beladiri penasaran dengan beladiri 'baru' ini dan sontak ingin belajar. Kemudian ketika giliran Capoeira masuk, banyak yang ingin belajar supaya bisa salto sambil nendang. Demikian pula saat aikido semakin populer setelah Steven Seagal beraksi dengan kemampuan aikido di sejumlah filmnya.

Sekarang giliran Wing Chun. Salah satu aliran dari wushu atau kungfu ini tengah tren di kalangan pecinta seni beladiri. Padahal beladiri ini sudah lama dikenal, seiring populernya Bruce Lee sebagai bintang laga. Namun kala itu belum banyak yang ingin mengenal Wing Chun lebih jauh. Baru setelah Donnie Yen beraksi dalam film Wing Chun dan sequelnya Wing Chun 2, barulah orang tertarik ingin belajar beladiri yang aslinya diciptakan oleh pendekar perempuan, Yip Wing Chun.

Sebagai sarana belajar Wing Chun, salah satunya adalah video. Browsing video teknik-teknik Wing Chun di internet termasuk pula beli video-nya secara online. Hal ini saya rasakan langsung, karena order yang masuk melalui toko online saya; belajarbeladiri.blogspot.com, dalam beberapa bulan terakhir paling banyak adalah video wing chun.

Mempelajari Wing Chun memang perlu guru. Namun untuk sekedar memuaskan rasa ingin tahu dan sekaligus mengenal Wing Chun, video menjadi pilihan praktis.

Sebagian besar konsumen video, menyatakan, tertarik Wing Chun karena Film Ip Man.
Ya, gara-gara Ip Man, Wing Chun semakin laris saja....



written by : harry



READ MORE - Gara-Gara Ip Man

Kamis, Oktober 07, 2010

Efektifitas Low Kick

Pemikiran sebagian orang awam beladiri, teknik tendangan dalam seni beladiri itu adalah tendangan-tendangan tinggi yang dilakukan sambil berputar, melompat atau dengan teknik akrobatik. Layaknya tendangan yang ditampilkan dalam film-film action.

Tendangan indah tersebut sebenarnya hanya untuk memikat penonton. Sementara dalam praktik beladiri keseharian atau beladiri praktis. Teknik seperti itu relatif sulit diterapkan. Perlu akurasi dan perhitungan yang tepat, karena tendangan tinggi apalagi dilancarkan pada orang berbadan besar atau bisa beladiri hanya akan membuang tenaga dan membahayakan diri sendiri. Kecuali kita sudah mahirmelakukan teknik-teknik tendangan tersebut.

Dalam seni beladiri, arah sasaran tendangan sebenarnya terbagi tiga. Pertama, tendangan rendah (low kick), tendangan tengah (middle kick) dan tendangan tinggi (high kick).

Dalam praktik beladiri, semua tendangan tersebut bisa digunakan. Namun jika ingin melumpuhkan penyerang dalam waktu singkat, lebih efektif menggunakan tendangan rendah. Sasaran low kick ini adalah kedua kaki, meliputi paha, lutut, lipatan lutut, tulang kering, selangkangan, punggung kaki, jemari kaki.

Kaki adalah pondasi tubuh kita. Jika pondasi bisa dilemahkan, tentunya serangan apapun akan bisa dilumpuhkan. Misal, seorang penyerang menusukkan pisau, kemudian kita elakkan atau tangkis sembari melancarkan tendangan ke arah tulang keringnya. Seketika penyerang akan lumpuh, pisau terlepas dan kita bisa melanjutkan serangan misalnya dengan pukulan, totokan, bantingan atau kuncian. Kalau tidak ingin melanjutkan balasan, kita pun bisa menjauhi penyerang.

Berbeda jika mengantisipasi serangan dengan tendangan ke arah tengah (perut, dada, punggung) atau atas (kepala). Jika lawan dapat menangkis atau menangkap kaki kita, tentunya membahayakan diri kita. Sedangkan tendangan ke bawah, sulit diatasi oleh penyerang, karena biasanya konsentrasi penyerang adalah menyerang bagian tengah dan bagian atas tubuh kita. Sehingga penyerang melupakan bagian bawah tubuh kita yang bisa digunakan untuk mengantisipasi lawan, yaitu dengan tendangan rendah.

Bruce Lee dalam bukunya, Bruce Lee's Fighting Methods menerapkan teknik tendangan rendah ini untuk teknik beladiri praktis di jalanan. Demikian pula Kungfu Wing Chun, tendangannya dominan ke arah bawah.

Banyak titik lemah di kaki yang efektif ditendang. Ketika tulang kering ditendang, kita bisa rasakan bagaimana sakitnya. Konsentrasi penyerang akan buyar dan secara refleks akan memegang kakinya yang sakit. Dalam beberapa menit ia harus berupaya menormalkan diri dari rasa sakit, kita pun tidak perlu banyak tenaga melumpuhkan penyerang.



READ MORE - Efektifitas Low Kick

Kamis, September 02, 2010

Karate Kid atau Kungfu Kid ?

Remake film Karate kid (2010) cukup menghibur. Kehadiran Jackie Chan bisa menjadi daya tarik untuk menonton, selain pula ingin melihat kemampuan akting putranya Will Smith (Jaden).

Namun yang cukup membingungkan pada film ini adalah ketidaksesuaian antara judul dan ceritanya.

Judulnya jelas, Karate Kid. Tapi kok teknik beladiri yang ditampilkan bukan karate, tapi murni Kungfu.

Semestinya film ini cocoknya berjudul Kungfu Kid.

Bagi orang awam beladiri, tentunya bisa menjadi persepsi yang salah atas beladiri. Karate ya kungfu, kungfu ya karate....

Koreksi buat sineas.


by eri
READ MORE - Karate Kid atau Kungfu Kid ?

Kamis, Mei 06, 2010

Sehari Belajar Grappling

Buat teman-teman di Banjarmasin yang ingin menambah wawasan pengetahuan dan skill beladiri. Kesempatan menarik ini sayang untuk dilewatkan.

Dilaksanakan di Gedung Taekwondo Banjarmasin, Sabtu 8 Mei 2010. Instruktur dari Jakarta, Hardian Kristiyadi dan Yohan Mulia. Mereka murid Niko Han, salah seorang pembawa Brazilian Jiu-Jitsu ke Indonesia.

Pada pelatihan sehari yang notabene gratis ini, kita akan dikenalkan dengan dasar-dasar grappling dengan materi Brazilian Jiu-Jitsu dan teknik beladiri lainnya yang sealiran.

Kabarnya, peserta akan mendapat t-shirt, dvd tutorial dan tentunya lunch.
READ MORE - Sehari Belajar Grappling

Rabu, Februari 10, 2010

Kata = Intisari Karate

Faktanya, tidak banyak karateka yang menyukai Kata.
Ya, karena Kata dianggap sebagai rangkaian gerakan atau kombinasi kihon yang membosankan dipraktikkan. Apalagi perlu hafalan yang baik dan rajin dilatih agar tetap melekat dalam memori otak.

Kalaupun memiliki perbendaharaan kata , hanya sekedar hapal. Apalagi kalau bukan sebagai pelengkap untuk menghadapi ujian kenaikan tingkat atau modal untuk melatih para kohai.

Apa sih arti Kata itu?
Sebagian mengatakan Kata adalah rangkaian gerakan dasar / kihon.
Itu saja.

Padahal definisi Kata tidak sekedar rangkaian gerakan dasar.
Menurut Shihan Harried Tanning (Dan VII), Dewan Guru PB Lemkari-Ketua Bidang Teknik, Kata adalah teknik berkelahi (beladiri) yang disusun oleh para master Karate sebagai media pembelajaran.

Gichin Funakoshi, Guru Besar Shotokan, sangat menekankan latihan Kata. Bahkan ia berprinsip, tiga tahun satu kata. Artinya, satu Kata harus dipelajari selama tiga tahun. Berarti untuk belajar 26 Kata Shotokan diperlukan waktu yang panjang.

Menurut Gichin, Kata adalah Karate, Karate adalah Kata.
Ya, karena Kata adalah intisari dari Karate. Semua teknik Karate ada di Kata.

Jika kita belajar Kata, berarti kita belajar banyak hal tentang Karate. Mulai dari Kihon, Kumite, Teknik Beladiri (self defense), Tenaga Dalam (Ki), Pengendalian Diri (self control) dan filosofi.

"Semua itu akan kita dapatkan jika kita mau mendalami Kata. Setelah menghayati makna dari teknik Kata, kita akan menemukan arti sesungguhnya Karate dan ternyata Karate itu begitu indah," ujar Shihan Harried Tanning.

"Kalau kita keluar negeri dan ikut berlatih di dojo setempat, biasanya para senior di dojo tersebut akan bertanya apa tingkatan sabuk yang kita pegang. Dan jika mereka ingin menguji kita, bukanlah mengajak sparring Kumite, melainkan berucap; Kata, please..." ujar Shihan Harried yang sering menyempatkan diri ikut berlatih di setiap dojo jika bepergian keluar negeri.

Dari peragaan Kata yang kita lakukan. Orang pun akan tahu seberapa jauh pemahaman dan penguasaan kita tentang Karate.

by Harry

READ MORE - Kata = Intisari Karate

Senin, Januari 25, 2010

Berbagai Versi Kata Shotokan (2)


Masih banyak lagi perbedaan-perbedaan dalam praktik Kata antara JKA dan SKIF, dua organisasi Shotokan terbesar di dunia. Kalau kita amati, hampir semua Kata Shotokan ada perbedaan.

Tidak hanya Kata versi JKA dan versi SKIF yang berbeda. Kata Shotokan versi tempo doeloe pun tidak sama dengan kedua organisasi modern Shotokan tersebut.

Gihin Funakoshi pada dokumenter peragaan Kata (direkam tahun 1923) mempraktikkan Heian Shodan yang tekniknya tidak kita temui pada Heian Shodan masa kini. Pada teknik pukulan chudan tsuki sebanyak tiga langkah (langkah ketiga disertai Kiai), hanya dua langkah Gichin menggunakan kuda-kuda zenkutsu dachi, sedangkan langkah/pukulan ketiga Gichin menggunakan kuda-kuda kokutsu dachi dengan posisi badan miring dan tangan kanan memukul arah chudan. Kemudian dilanjutkan empat kali shuto uke ke empat arah.

Gigo Funakoshi, putra Gichin, dalam video dokumenter tersebut mempraktikkan Heian Godan gerakan terakhir dengan kuda-kuda mirip zenkutsu dachi, bukan kokutsu dachi seperti versi sekarang.

Nah, semakin bingung, mana yang benar. Berarti versi JKA tidak sama dengan versi Gichin? Demikian pula versi SKIF tidak sama dengan teknik Kata Gichin?

Jelasnya, perbedaan tersebut dikarenakan fleksibilitas dalam mengaplikasi Kata.
Gichin sendiri tampaknya tidak melarang adanya perubahan dalam beberapa teknik Kata tersebut. Sebab ia sendiri merevisi sejumlah teknik Kata dan nama-nama Kata yang ia pelajari di Okinawa untuk menjadi Kata versi Shotokan.

Semasa Gichin hidup, Gigo kemudian memperbarui gerakan Kata versi Shotokan tersebut untuk mempertegas dan memperjelas identitas Kata perguruan berlambang harimau tersebut.

Lantas bagaimana hingga berbeda dengan JKA dan SKIF? Mungkin saja Masatoshi Nakayama ingin mempermudah para karateka berlatih, sehingga beberapa bagian gerak diubah lagi dari gerak asal. Demikian pula Hirokazu Kanazawa yang merupakan murid Nakayama dan Gichin, setelah mendirikan SKIF mengubah Kata yang selama ini ia pelajari untuk menjadi Kata versi organisasinya

Sekarang mana yang benar dan harus diikuti?
Yang benar adalah, organisasi Shotokan apa yang menjadi afiliasi perguruan Anda. Jika perguruan Anda berafiliasi pada JKA, terapkan Kata sesuai standar JKA. Jika perguruan Anda menganut teknik SKIF. Praktikkan Kata standar SKIF.

Jadi, yang tidak benar adalah jika Anda menerapkan Kata berbeda dengan afiliasi perguruan Anda. Kecuali pada pertandingan Kata yang digelar organisasi lintas perguruan macam FORKI, silakan memperagakan Kata dari organisasi atau perguruan lain.

Lebih jelasnya mengenai berbagai versi kata Shotokan tersebut, Anda bisa lihat videonya di sini atau di sini dan juga di sini

READ MORE - Berbagai Versi Kata Shotokan (2)

Minggu, November 01, 2009

Berbagai Versi Kata Shotokan (1)


Kihon, Kata, Kumite. Ketiga teknik itulah yang wajib dipelajari para karateka sejak sabuk putih hingga hitam. Kihon adalah gerakan dasar, Kata merupakan rangkaian gerak dasar, Kumite adalah teknik untuk pertarungan atau pertandingan.

Khusus Kata. Belajar Kata begitu penting, karena menurut Gichin Funakoshi; Kata adalah jiwa dari Karate. Saripati Karate semua ada di Kata.

Bahkan Gichin Funakoshi yakin, setelah seseorang 'menguasai' lima Kata Heian maka karateka tersebut akan bisa melindungi dirinya dalam berbagai situasi ancaman. Sayangnya tidak semua dojo karate mengajarkan pemahaman apalagi aplikasi yang terkandung dalam setiap Kata.

Banyak sekali jumlah Kata dalam Karate. Dari sekian banyak Kata tersebut, Shotokan sebagai salah satu aliran Karate, memuat 26 Kata dalam kurikulum pengajaran Karate. Hal ini sesuai yang diajarkan di Japan Karate Associaton (JKA) maupun Shotokan Karate-Do International Federation (SKIF).

Kata standar JKA dan SKIF tersebut terbagi menjadi 5 Kata Heian (kata dasar), 3 Kata Tekki dan lainnya yaitu Bassai Dai, Bassai Sho, Jion, Jiin, Kanku Dai, Kanku Sho, Sochin, Unsu, Chinte, Wankan, Enpi, Gojushiho So Gojushiho Dai, Jitte, Nijushiho, Gankaku, Meikyo, Hangetsu.

Sementara JKA menerapkan 26 Kata dan SKIF menerapkan 27 Kata (terbaru, Niju Hachi Ho, ciptaan H Kanazawa), ada lagi beberapa organisasi Karate Shotokan yang menetapkan jumlah Kata 25. Biasanya perbedaan itu pada penambahan atau pengurangan Kata, misalnya memasukkan Taikyoku (Shodan, Nidan, Sandan) yang merupakan Kata ciptaan Gichin Funakoshi, kemudian mengurangi Kata lainnya.

JKA dan SKIF adalah dua organisasi Shotokan yang saat ini sama-sama banyak memiliki pengikut di seantero dunia. Meski sama-sama mengajarkan Kata Shotokan, namun kedua organisasi ini memiliki perbedaan dari penerapan masing-masing Kata tersebut.

Penerapan tersebut tersebut pada bentuk gerakan. Misalnya Kata Heian Shodan, terjadi perbedaan pada sikap dachi (kuda-kuda) saat melakukan teknik pukulan Tettsui/Kentsui (pukulan palu).

Heian Shodan versi JKA; setelah gedan barai kanan, kemudian menarik tangan kanan ke dalam untuk melakukan tettsui sembari kaki kanan ditarik ke dalam, posisi badan setengah berdiri tegak, kemudian mengayunkan tettsui berbarengan kaki kanan kembali ke depan membentuk zenkutsu dachi. Selanjutnya chudan tsuki kiri.

Heian Shodan versi SKIF; setelah gedan barai kanan, kemudian menarik tangan kanan ke dalam untuk melakukan tettsui sembari kaki kanan ditarik ke dalam, posisi badan berdiri tegak, kemudian mengayunkan tettsui (tidak kembali zenkutsu dachi). Selanjutnya chudan tsuki kiri.

Perbedaan juga terjadi pada Kata Heian Nidan, Sandan, Yondan dan Godan. Kemudian Bassai Dai, Jion dan lainnya...

Mengapa terjadi perbedaan?
Pada tulisan berikutnya akan kami ulas penyebabnya, berikut video klip kedua versi Kata tersebut, untuk melihat lebih jelas gerakan apa saja yang berbeda.
Juga akan kami paparkan bagaimana kata shotokan gaya klasik.

bersambung...


READ MORE - Berbagai Versi Kata Shotokan (1)

Selasa, Oktober 06, 2009

1 Pendiri, 2 Aliran

Taekwondo merupakan seni beladiri asal Korea hasil kombinasi dari beberapa seni beladiri tradisional negeri ginseng tersebut, antara lain taekyon dan karate shotokan. Saat ini Taekwondo menjadi salah satu seni beladiri populer di dunia dan di pertandingkan di olimpiade (versi atau aliran WTF).

Ada dua aliran besar dalam Taekwondo yang masing-masing dinaungi oleh dua organisasi dunia, yaitu World Taekwondo Federation (WTF) dan International Taekwondo Federation (ITF). Uniknya, kedua aliran ini secara fundamental pendirinya adalah satu orang, yakni Jenderal Choi Hong Hi.

Choi Hong Hi adalah salah seorang jenderal bintang dua di Korea Selatan yang dilahirkan di Hwa Dae, Myongchon (kini menjadi bagian Korea Utara). Sejak kecil ia mempelajari berbagai seni beladiri tradisional Korea, salah satunya Taekyon. Saat remaja ia bersekolah ke Jepang dan mempelajari Karate Shotokan di Dojo-nya Gichin Funakoshi hingga menyandang sabuk hitam DAN II.

Kembali ke Korea, Choi Hong Hi berkarir di militer. Karirnya terus melesat hingga berpangkat Mayor Jenderal. Atas kegemarannya pada seni beladiri Choi Hong Hi meramu teknik-teknik beladiri yang dikuasainya, termasuk karate shotokan hingga terciptalah beladiri yang dinamakannya Oh Dok Kwan. Sejumlah rekan menjadi murid pertama Choi.

Presiden Korea Selatan kala itu, Syngman Rhee, kemudian meminta Choi Hong Hi untuk menghimpun para ahli beladiri di negara tersebut. Tujuannya menciptakan satu metode pelatihan fisik dan beladiri bagi kalangan militer. Pada 1955 atau dua tahun pasca perang Korea Selatan dan Utara, lahirlah beladiri baru Tang So Do yang kemudian berganti menjadi Taekwondo (secara harfiah; jalan/seni tangan dan kaki).

Namun perhimpunan yang terdiri sembilan perguruan (kwan) itu tak bertahan lama karena ego masing-masing perguruan. Meski demikian Choi Hong Hi tetap meneruskan pengajaran Taekwondo yang awalnya hanya di kalangan militer.

Seiring perjalanan waktu, beladiri ini dipublikasikan hingga masyarakat umum bisa mempelajari. Meski sejak 1950-an terpecah menjadi dua negara, Korea Selatan dan Korea Utara, namun Taekwondo tetap dipelajari oleh masyarakat di kedua negara bersaudara itu. Pada 1966 di Seoul, Korea Selatan, didirikanlah International Taekwondo Federation (ITF).

Sayangnya, situasi politik yang kala itu tidak mendukung karir Choi Hong Hi di militer maupun pemerintahan membuatnya harus meninggalkan Korea Selatan. Konon, hijrahnya Choi bersama keluarga ke Kanada (1972) untuk menghindari 'pembersihan' sejumlah politisi termasuk petinggi militer yang dianggap tidak sepaham dengan pemerintah Korea Selatan yang telah direformasi. Hal ini mungkin berkait pula dengan asal muasal Cho Hong Hi yang desa kelahirannya kini masuk Korea Utara.

Di Kanada, Choi Hong Hi terus mengembangkan Taekwondo dengan organisasinya ITF. Setahun sepeninggal Jenderal Choi, pada 1973 pemerintah Korea Selatan mendirikan World Taekwondo Organisation (WTF), sebagai wadah Taekwondo di negara tersebut.

Jadilah Taekwondo menjadi dua organisasi yang secara teknik juga memiliki beberapa perbedaan. Seragam pun berbeda. Versi ITF mengenakan baju dengan kerah selempang seperti umumnya beladiri Jepang namun berikat di tengah perut, sedangkan WTF berdesain kerah seperti huruf V. Baju dan celana versi ITF berstrip/garis hitam di bagian sisi tangan dan sisi kaki.


Teknik tendangan tak jauh beda, hanya gerak dasar yang sedikit ada perbedaan. Dalam sistem pertandingan, WTF lebih mengarah pada olahraga murni sehingga full protector dan tidak tidak terlalu memberi 'perhatian' pada teknik pukulan. Sedangkan ITF hanya mengenakan hand glove dan foot protector, sementara dada dan perut tidak berpelindung demikian pula kepala tidak dilindungi helm. Karena minim protector, gaya fight ITF yang menggunakan kombinasi pukulan dan tendangan, lebih full contact dibanding WTF.

Kembali pada sang pendiri. Setelah 28 tahun bermukim di Kanada dan berhasil mengembangkan Taekwondo ITF ke sejumlah negara, pada tahun 2000 Choi Hong Hi memutuskan pulang ke Korea Utara yang notabene 'negara' kelahirannya. Dua tahun kemudian, pada 15 Juni 2002, Choi meninggal dunia di Pyongyang, akibat penyakit kanker.
Taekwondo ITF kini dipimpin oleh Choi Jung Hwa. Putra tunggal Choi Hong Hi tersebut menjabat presiden ITF sejak 2001.


written by harry


READ MORE - 1 Pendiri, 2 Aliran

Kamis, September 24, 2009

Jet Lee Juga Seorang 'Kenshi'

Lie Lien Chieh atau Li Lien Jieh alias Jet Lee ternyata tak hanya mahir bermain kungfu, ia juga pandai beladiri Shorinji Kempo.

Apa iya? Ya, lihat saja di film jadul Shaolin Temple yang edar tahun 1982. Pada adegan latihan para biksu di halaman kuil, jelas sekali gerakan dasar Shorinji Kempo diperagakan.

Kemudian adegan perkelahian antara biksu Shaolin dan para musuh yang menyerang kuil, sejumlah biksu termasuk tokoh yang diperankan Jet Lee, menggunakan teknik perkelahian khas Shorinji Kempo. Gaya tendangan, pukulan, kuncian dan bantingan.

Mungkin Anda yang pernah nonton film ini lupa dengan adegan tersebut. Oke, kalau mau lihat bagaimana adegannya, klik di sini

READ MORE - Jet Lee Juga Seorang 'Kenshi'

Senin, September 14, 2009

Wong Fei Hung Seorang Muslim !


Siapa tak kenal Wong Fei Hung? Jago Kungfu legenda Tiongkok ini beberapa kali difilmkan hingga kemudian semakin populer setelah era tahun 90-an bintang film action Jet Lee memainkannya dalam serial layar lebar Kungfu Master (judul asli; Once Upon a Time in China).

Dari film itu, orang tahu bahwa Wong Fei Hung adalah pendekar berhati luhur, suka menolong dan tak hanya jago kungfu tapi juga mahir mengobati penyakit karena ia juga seorang tabib mumpuni.

Tendangan tanpa bayangan, adalah salah satu teknik khas Wong Fei Hung yang dalam film digambarkan sebagai teknik tendangan menyamping (side kick) di udara dengan beberapa kali tendangan (beruntun) kaki kiri dan kanan.

Selain kehebatan kungfunya, tahukah Anda bahwa Wong Fei Hung ternyata beragama Islam. Bahkan ia berasal dari keluarga muslim yang taat, sehingga Wong Fei Hung yang dilahirkan pada 1847 di Kwantung (Guandong) memiliki pengetahuan agama Islam yang luas.

Nama Wong Fei Hung jika diartikan adalah Faisal Hussein Wong. Ya, Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Foto diri Wong Fei Hung

Lebih lengkapnya tentang fenomena Wong Fei Hung bisa Anda baca di sini
READ MORE - Wong Fei Hung Seorang Muslim !

Senin, September 07, 2009

Kekurangan Film Merantau


Sudah nonton film Merantau?

Bagaimana pendapat Anda?

Kalau menurut saya, film aksi Indonesia ini memang oke. Rasanya baru kali ini nonton film aksi beladiri tanah air seperti ini...

Gaya bertarungnya khas pencak silat dengan kemasan pengambilan gambar yang memikat. Meski mirip dengan film Ong Bahk dari Thailand, namun pastinya film Merantau patut diacungi jempol. Good, good, good......

Apa yang dilakukan sutradara asal Inggris, Gareth Huw Evans, mungkin melawan arus tren film di tanah air yang marak dengan tema horor dan cinta serta komedi nakal. Tapi kenyataannya tema beladiri tradisional tersebut mampu menarik perhatian publik karena dikemas dengan apik dan menarik.

Namun ada satu yang kurang dari film Merantau...
Film ini menampilkan seni budaya asli Indonesia, beladiri pencak silat, tapi sayangnya yang mengangkat ke layar lebar adalah sineas barat.

Ke mana sineas kita?

Orang bule saja peduli dengan budaya kita, kenapa kita tidak peduli dengan budaya sendiri?
READ MORE - Kekurangan Film Merantau

Kamis, Juli 30, 2009

Apalah Artinya Sebuah Sabuk...


Hampir semua seni beladiri menerapkan sistem peringkat pada anggotanya. Peringkat itu ditandai berupa sabuk.

Setiap tingkatan berbeda warna sabuknya. Ada merah, kuning, hijau, putih, coklat, biru, hitam, jingga dan sebagainya. Soal bentuk sabuk, modelnya tergantung masing-masing perguruan.

Pergantian sabuk dari satu warna ke warna lainnya harus ditempuh melalui ujian yang meliputi ujian fisik, mental dan teknik.

Sangat melelahkan... mengubah warna sabuk saja harus berpeluh keringat, bahkan kadang memar dan luka.

Namun lelahnya menjalani proses tersebut seolah sirna ketika seikat sabuk warna baru diperkenankan melingkar di pinggang kita.

Sayangnya, proses memperoleh sabuk itu kemudian tidak dihargai oleh sang pemilik sabuk. Pulang ke rumah, sabuk dilempar begitu saja di lantai, bahkan tidak disentuh jika belum tiba jadwal latihan.

Ketika hendak memulai latihan, memakai sabuk asal-asalan. Penting adalah melingkar di pinggang dan simpulnya terikat. Beres!

Padahal, memakai sabuk ada etika tersendiri. Seperti halnya seorang guru atau pelatih tidak serta merta melemparkan begitu saja sabuk baru kepada kita saat kita dinyatakan lulus ujian. Kadang ada prosesi khusus dalam penyerahan sabuk kepada murid yang lulus. Begitu formal sehingga ada kebanggan tersendiri saat mendapat sabuk baru.

Memakai sabuk (yang kita dapatkan dengan susah payah) haruslah dengan cermat. Peganglah kedua ujung sabuk, jika ukurannya panjang, lingkarkan sebagian di salah satu tangan kita. Jangan biarkan ada bagian sabuk yang menjuntai hingga menyentuh lantai atau tanah. Praktik ini perlu dilakukan, baik saat posisi berdiri atau duduk.

Demikian pula ketika melepas, ketika simpul dibuka janganlah sabuk dibiarkan jatuh begitu saja ke kaki kita, kemudian dipungut. Sebaliknya, peganglah sabuk dengan benar. Seperti halnya ketika memasang, tak ada bagian yang menyentuh lantai saat sabuk dilepas. Selanjutnya lipat dengan baik sabuk tersebut.

Kepada murid-murid di tempat latihan, saya sering mengingatkan tata cara menghormati sabuk ini. Bukan bermaksud mendewakan atau mengagungkan benda berbahan kain yang dilipat dan dijahit berlapis itu, tetapi lebih pada menghargai proses kita mendapatkan sabuk tersebut.

Seperti halnya ketika anak-anak mendapatkan raport hasil belajar di sekolah. Apakah ketika pulang ke rumah dilempar begitu saja? Tidak kan? Benda berupa kertas bertulis angka dan hurup itu disimpan baik-baik, meskipun dalam penilaian sang guru menulis satu atau dua angka dengan tinta merah.

Demikian pula ketika prestasi kerja kita di kantor dihargai dengan selembar piagam, plakat atau tanda penghargaan lainnya. Apakah benda mati itu kita onggokan begitu saja di sembarang tempat? Sebaliknya ditaruh di atas meja atau dalam lemari, bahkan 'dibungkus' dengan bingkai kaca segala.

Sebuah sabuk akan begitu berarti
jika kita bisa memaknai
arti sebuah sabuk....


harry

READ MORE - Apalah Artinya Sebuah Sabuk...

Rabu, Juni 03, 2009

Wasit-Juri Juga Manusia ... (2)


Kata orang, pertandingan seni beladiri adalah pertandingan yang tidak terukur. Maksudnya, penilaian dalam pertandingan seni beladiri itu sangat ‘kompleks’, perlu kejelian seorang wasit-juri dalam melihat sebuah teknik apakah menghasilkan poin atau tidak. Sebab seringkali teknik yang dilancarkan berlangsung cepat dan kadang nyaris sulit diikuti mata.

Berbeda halnya dengan pertandingan sepak bola, bola basket, billiard dan lainnya yang penonton pun secara jelas bisa melihat bagaimana poin dihasilkan.

Tidak terukurnya pertandingan seni beladiri, kadang dimanfaatkan segelintir orang untuk mencari kemenangan. Caranya, memanfaatkan oknum wasit-juri yang bisa diajak bekerjasama dalam menentukan penilaian.

Money politic dalam pertandingan seni beladiri, adalah sebuah fenomena. Hal itu tidak bisa kita pungkiri.

Tatkala ingin atletnya berprestasi, ada saja oknum pelatih, manajer, ofisial, bahkan orangtua atlet yang secara sembunyi melobi wasit-juri.

Lha, wasit-juri yang semestinya netral, ini kok malah ada saja yang mau diajak kompromi. Soalnya, siapa sih yang imannya kuat tatkala melihat segepok rupiah?

Dengan landasan aturan bahwa keputusan wasit-juri tidak bisa diganggu-gugat (kalaupun boleh protes, harus bayar!), oknum wasit juri itu pun bisa berdrama di atas matras. Tatkala atlet yang dijagokan maju bertanding, aktor berseragam pengadil ini pun memainkan peran di hadapan penonton.

Tak heran jika kadang-kadang terjadi kericuhan saat pertandingan berlangsung atau di akhir pertandingan. Tim manajer, pelatih, ofisial bahkan atletnya sendiri protes, kenapa teknik pukulan, tendangan atau bantingannya tidak dipoin? Padahal menurut mereka secara teknik dan arah sasaran sudah tepat.

Sementara tim lawan yang atletnya sudah diplot untuk menang, adem ayem saja.
Ya, silakan saja protes….
Tapi percuma, broer! Cuma menghabiskan air liur dan penat bertegang urat syaraf…
Toh, ujung-ujungnya keputusan itu tak bisa diganggu-gugat! Titik!

Wong, wasit-juri (bahkan mungkin dewan wasit) sudah dibayar untuk kukuh pada keputusan mereka.

Memang tidak semua wasit-juri berlaku demikian. Masih banyak mereka yang bersih, adil dan obyektif dalam menjalankan tugas yang dilandasi janji atau sumpah wasit.

Tapi, kenyataan bahwa ada oknum wasit atau juri yang bisa dilobi, bahkan ada yang menawarkan diri kepada kontingen, adalah coreng dalam dunia olahraga beladiri yang idealnya sangat menjunjung tinggi sportivitas.

Sebuah fenomena yang unik tapi ‘menarik’.
Namun jika kembali kepada khittah manusia, manusia tidak ada yang sempurna.

Ya, jika memplesetkan lagunya Band Seurieus; “…wasit-juri… juga.. manusia….”

Kita pun, bisa salah dan khilaf...

READ MORE - Wasit-Juri Juga Manusia ... (2)

Wasit-Juri Juga Manusia ... (1)


Suatu waktu pada sebuah kejuaraan Karate even FORKI daerah yang mempertandingkan nomor Kata perorangan, terjadi sebuah ‘keanehan’. Salah seorang atlet yang bertanding dinyatakan juri kalah dari lawannya, padahal atlet tersebut merasa penampilannya lebih bagus dari sang lawan, apalagi Kata yang dibawakan kategorinya lebih sulit.

Penonton yang melihat pertandingan itu pun bingung. Penilaian secara awam, memang atlet yang dikalahkan tadi penampilannya lebih baik. Segi penjiwaan bagus, ritme sesuai, power oke. Tapi kok bisa, sang lawan yang gerakannya tidak bisa dikatakan bagus, malah dimenangkan.

Usut punya usut, ternyata keputusan juri itu dikarenakan atlet dari aliran Shotokan yang kalah tadi membawakan Kata dari aliran Goju, sementara sang lawan yang juga dari Shotokan tetap membawakan Kata alirannya sendiri.

Apakah tidak boleh seorang atlet Kata membawakan Kata yang bukan dari alirannya sendiri? Rasanya aturan pertandingan tidak membatasi hal itu. Buktinya, di even nasional bertanding dengan membawakan Kata dari aliran lain sah-sah saja.

Memang bukan karena itu juri melakukan penilaian. Sebab saat pertemuan teknik (technical meeting) membawakan Kata dari aliran lain diperbolehkan. Lantas, apa sebabnya?

Juri tidak bisa menilai!

Ya, juri terpaksa memenangkan atlet yang membawakan Kata Shotokan karena untuk menilai Kata Goju (dan mungkin juga Shito, Wado) mereka tidak punya kemampuan alias tidak mengerti dengan Kata tersebut.

Lucu? Memang lucu!

Semestinya sebagai seorang wasit dan juri FORKI harus mengenal Kata aliran sendiri dan Kata aliran lain. Jelasnya, hapal dengan Kata aliran sendiri ditambah ‘paling tidak’ memiliki perbendaharaan dua atau empat Kata aliran lain. Kenyataannya pada kasus di atas, juri Kata tidak demikian.

Lucunya lagi, malah ada juri Kata yang minim perbendaharaan Kata alirannya sendiri. Sehingga pernah salah dalam menilai penampilan atlet dari aliran yang sama. Atlet tersebut gerakannya sudah betul, tapi dikalahkan karena dianggap ada gerakan yang keliru. Padahal sang juri sendiri yang tidak hapal dengan Kata tersebut.

Idealnya, seorang juri Kata harus hapal semua Kata di alirannya, bukannya cuma Kata dasar plus dua-tiga Kata di atasnya. Ya, jika ia dari aliran Shotokan sudah sepatutnya tahu dengan 26 Kata Shotokan! Bagaimana mau menilai, jika koleksi Kata di kepalanya hanya 50 persen, bahkan mungkin 10 persen!

Ujung-ujungnya, atlet dikecewakan. Jerih payah latihan (dengan motivasi yang tinggi, tanpa mempedulikan apakah prestasinya nanti berbuah rupiah atau penghargaan serta pekerjaan), kemudian berakhir dengan keputusan di atas matras yang tidak masuk akal!

Sebuah fenomena yang unik tapi ‘menarik’.
Namun jika kembali kepada khittah manusia, manusia tidak ada yang sempurna.

Ya, jika memplesetkan lagunya Band Seurieus; “…wasit-juri… juga.. manusia….”

Kita pun, bisa salah dan khilaf...


READ MORE - Wasit-Juri Juga Manusia ... (1)

Senin, Mei 18, 2009

Beragam Jenis Bo

Sejak zaman dulu, manusia memanfaatkan berbagai peralatan keseharian sebagai senjata untuk mempertahankan diri Salah satu peralatan keseharian itu adalah tongkat.

Tongkat dari batang kayu atau bambu ini umumnya digunakan sebagai pemikul, baik memikul barang dagangan atau membawa ember kayu berisi air. Selain itu, tongkat juga dipakai sebagai alat bantu berjalan.

Konon, berdasar catatan sejarah, penggunaan tongkat sebagai senjata dipelopori oleh pendeta Zen Budha, Dharma Taisi atau Budhi Dharma pada pada tahun 517 SM.

Kemudian penggunaan tongkat sebagai senjata diajarkan kepada para murid dan pendeta di kuil Budha (kemudian dikenal sebagai kuil Shaolin) tempat Budhi Dharma mengabdikan hidupnya.

Seiring pengaruh seni beladiri Kungfu pada seni beladiri asli Okinawa, penggunaan tongkat sebagai senjata juga diterapkan kalangan pebeladiri di pulau kelahiran Karate tersebut.

Dalam khasanah beladiri di Okinawa, senjata tongkat ini dikenal dengan sebutan Bo. Keberadaan Bo melengkapi jenis persenjataan dalam beladiri Kobudo selain Sai (trisula), Kama (clurit) dan nunchaku (double stick).

Seperti halnya di Cina, dalam aktivitas keseharian masyarakat Okinawa fungsi tongkat juga menjadi alat pemikul (tenbin). Ketika keadaan memaksa, seperti halnya saat pemerintah kerajaan Jepang (1314 M) melarang masyarakat Okinawa membawa senjata tajam, Bo menjadi alternatif alat membeladiri.

Sebagai alat bertahan dan menyerang, ukuran Bo disesuaikan dengan postur tubuh pengguna. Standar Bo berupa batang kayu lurus sepanjang 180 cm dengan diameter titik tengah 3,25 cm dan diameter kedua ujung 2 cm.

Kontur Bo memang tidak sama antara tengah dan kedua ujung. Bagian tengah berdiameter lebih tebal dan bagian ujung mengecil. Hal ini bertujuan untuk keseimbangan, memudahkan penguasaan atau kontrol gerak, mengurangi kepadatan dan meningkatkan kelenturan.

Dari segi fisik, bentuk Bo sangat bervariatif. Selain berbahan kayu, juga ada berbahan bambu. Tentunya pemilihan bahan dan bentuk Bo terkait dengan selera pengguna dan pemanfaatan senjata tersebut.

Teknik memainkan tongkat ini antara kalangan pebeladiri di Cina dan Okinawa (Jepang), memiliki perbedaan yang mendasar, baik dari cara memegang maupun mengayunkan tongkat untuk menangkis dan menyerang.

Di tangan praktisi Kungfu atau Wushu, tongkat yang dikenal dengan nama toya ini dimainkan secara luwes dan penuh variasi gerakan. Sementara di tangan praktisi Kobudo dan Karate, pergerakan Bo lebih to the point, tidak banyak variasi namun langsung diarahkan untuk bertahan dan menghajar lawan. harry

READ MORE - Beragam Jenis Bo

Jumat, Mei 01, 2009

Muk Yan Jong ( II )

Sebagaimana artikel sebelumnya, ada 8 bagian latihan Muk Yan Jong. Berikut deskripsi latihan tersebut.

Bagian Pertama
Terdiri 10 gerakan dimulai jurus awal (posisi siap) kemudian menarik leher, tan sau kiri dan kanan dan jaun sau. Bagian ini menekankan kelincahan dan kekuatan kuda-kuda.

Bagian Kedua
Terdiri 10 gerakan, dimulai posisi awal kanan.

Bagian Ketiga
Terdiri 10 gerakan, dimulai menangkis di luar dan di dalam. Bagian ini juga mengajarkan cara melatih telapak tangan untuk menangkis dan menyerang.

Bagian Keempat
Terdiri 9 gerakan, mulai dari gerakan telapak tangan samping. Keutamaan latihan ini membiasakan tangan dan lengan mampu melakukan serangan balasan sambil menyelusup yang dibarengi tendangan samping yang cepat. Tujuan latihan ini untuk menguasai latihan keterapilan agar bisa melancarkan rangkaian gerakan ke depan segera setelah tangan menemukan celah atau peluang yang terbuka. Walau lawan terus menekan dan melancarkan pukulan, kita tetap bisa melakukan balasan dengan pukulan atau tendangan.

Bagian Kelima
Terdiri 21 gerakan, mulai tan sau ganda. Bagian ini melatih teknik menyelinap masuk menyerang ke daerah pertahanan lawan, sambil menyerang titik lemah lawan. Teknik ini mematikan, jika dilakukan dengan penyaluran tenaga yang tepat.

Bagian Keenam
Terdiri 15 gerakan yang dimulai fok sau. Bertujuan melancarkan aplikasi teknik tangan ganda atau po pai cheung.

Bagian Ketujuh
Terdiri 15 gerakan, dimulai gun sau kiri dan kanan. Penekanan latihan ditujukan pada perubahan bong sau menjadi cengkraman tangan yang dapat dipadukan dengan serangan tangan. Pada akhir latihan akan banyak ditekankan pada persiapan aplikasi tendangan jejak menyilang yang merupakan salah satu pamungkas teknik wing chun.

Bagian Kedelapan
Terdiri 26 gerakan, dimulai bong sau bawah kiri dan kanan dan diakhiri gerakan mundur atau menarik diri. Sebagian besar teknik tendangan ada di bagian ini.

Contoh Teknik Bagian Pertama






































ingin belajar Muk Yan Jong lebih lanjut...?
ikuti tutorial lengkapnya langsung dari Yip Man!
temui Yip Man di sini


READ MORE - Muk Yan Jong ( II )
Web Hosting


IndoBanner Exchanges